Publikasiterkini.com° Lumajang – Pertamina Patra Niaga menutup satu unit pangkalan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram di Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (11/4/2026).
Penutupan ini dilakukan menyusul temuan hasil sidak terkait adanya indikasi penimbunan gas elpiji 3 kilogram di Dusun Kebonsari, Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, pada Kamis (9/4/2026).
Saat itu, ditemukan sebanyak 1.000 tabung elpiji 3 kilogram yang diduga sengaja ditimbun di pangkalan milik warga berinisial B.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengatakan penimbunan oleh pangkalan menyebabkan terjadi kelangkaan gas melon di masyarakat.
Hal itu membuat Pemkab Lumajang bersama Pertamina mengambil keputusan untuk menutup pangkalan nakal tersebut.
“Jadi, hari ini secara resmi kami bersama Pertamina melakukan pemutusan hubungan usaha terhadap pangkalan di Desa Jarit. Bukti PHU juga sudah ditempel di lokasi,” terang Indah di Desa Jarit, Sabtu (11/4/2026).
Menurutnya, secara ketentuan setiap pangkalan seharusnya hanya diperbolehkan memiliki sekitar 100 tabung untuk distribusi dan 100 tabung untuk stok.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan jumlah yang ditemukan mencapai sepuluh kali lipat dari batas tersebut.
“Nah, seharusnya maksimal 100 tabung untuk distribusi dan 100 untuk stok. Tapi ketika tim kami datang, jumlahnya hampir seribu. Ini jelas pelanggaran serius. Makanya kami ambil keputusan untuk menutup pangkalan,” tambahnya.
Indah menyampaikan harga LPG bersubsidi di masyarakat saat ini sudah mencapai Rp24 ribu hingga Rp35 ribu per tabung. Artinya, sudah jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp18 ribu.
“Ini sudah sangat di luar nalar. LPG 3 kilo ini diperuntukkan bagi masyarakat kecil. Kalau harganya melambung seperti ini, jelas sangat memberatkan,” ungkap Indah.
Sofi/bj


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini