Menu

Kolaborasi Mahasiswa dan Polri di Rimbang Baling Perkuat Gerakan Cegah Karhutla dan Narkoba

April 27, 2026

Publikasiterkini° Kampar _ Upaya membangun kesadaran kolektif terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Camping Kebangsaan Mahasiswa Riau yang diinisiasi Tumbuh Institute di kawasan Rimbang Baling, pada 25–26 April 2026.

Kegiatan bertema “Bersama Wujudkan Green Policing, Green Generation, dan Cegah Karhutla” ini diikuti sekitar 150 mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi Cipayung Plus se-Provinsi Riau.

Head of Tumbuh Foundation, Azairus Adlu, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog yang jujur dan reflektif lintas elemen.

“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan, ekonomi, dan kepercayaan publik terhadap tata kelola negara. Karena itu, kami menghadirkan ruang kolaboratif agar semua pihak dapat berdiskusi dan membangun kesadaran bersama,” ujarnya.

Azairus juga menyoroti ancaman lain yang tak kalah serius, yakni peredaran narkoba yang merusak generasi muda.

“Narkoba menghancurkan manusia, sementara karhutla menghancurkan ruang hidup. Keduanya berakar pada keserakahan dan pembiaran. Melawan narkoba berarti menjaga manusia, dan melawan karhutla berarti menjaga masa depan,” tegasnya.

Baca Juga :  Polres Blitar Amankan Residivis Pembobol Tiga Gedung Sekolah

Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan karena kekuatan berpikir kritis, pengaruh sosial, serta akses terhadap pengetahuan. Oleh sebab itu, keterlibatan mahasiswa perlu diarahkan menjadi gerakan yang terorganisir dan berkelanjutan.

Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu malam melalui sesi api unggun kebangsaan yang menghadirkan Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, serta aktivis HAM Hurriah.

Kapolda Riau menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif dan perubahan pola pikir dalam menghadapi ancaman karhutla dan narkoba. Ia mengingatkan bahwa Riau berpotensi mengalami siklus karhutla besar, sebagaimana pernah terjadi pada 1997.

“Permasalahan karhutla dan narkoba tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh pemerintah atau kepolisian saja. Dibutuhkan kolaborasi dari hulu melalui edukasi hingga hilir melalui penegakan hukum,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen tegas institusinya dalam pemberantasan narkoba, termasuk tidak mentolerir keterlibatan anggota kepolisian dalam jaringan peredaran gelap tersebut.

Sementara itu, Rocky Gerung menempatkan isu karhutla dalam perspektif yang lebih luas sebagai bagian dari krisis ekologis global yang mengancam masa depan peradaban.

“Kita tidak hanya berbicara tentang Riau atau Indonesia, tetapi masa depan bumi. Bumi adalah satu-satunya ‘kapal’ yang kita miliki, dan seluruh manusia adalah penumpangnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Satreskrim Polres Sampang Amankan Pemuda Penyebar Video Pornografi di Tambelangan

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran sebagai buffer intelektual dalam menghadapi krisis multidimensi, mulai dari ekonomi hingga ekologi.

Aktivis HAM Hurriah menegaskan bahwa karhutla juga merupakan persoalan hak asasi manusia karena berkaitan langsung dengan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat.

“Karhutla bukan sekadar bencana, tetapi krisis yang terus diproduksi dan dinormalisasi. Ini berarti hak masyarakat atas udara bersih sedang tergerus,” ujarnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk memperkuat gerakan berbasis riset dan advokasi kebijakan, tidak hanya aksi simbolik.

“Tanpa data, gerakan akan mudah dipatahkan. Mahasiswa harus mampu mengumpulkan data, menganalisis, dan menyusun rekomendasi kebijakan,” katanya.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan diskusi teknis bertema karhutla yang menghadirkan narasumber dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi Riau, serta Manggala Agni. Peserta memperoleh gambaran langsung terkait kondisi lapangan, tantangan penegakan hukum, serta upaya mitigasi yang telah dilakukan.

Selain itu, forum diskusi kelompok (focus group discussion) mengenai narkoba turut digelar dengan melibatkan narasumber dari Ditbinmas dan Ditresnarkoba Polda Riau. Forum ini menjadi ruang interaktif bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas persoalan keamanan dan sosial di daerah.

Baca Juga :  Waspada Jerat Judi Online: Janji Manis yang Berujung Tragedi

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran baru di kalangan mahasiswa bahwa penanganan karhutla dan narkoba merupakan tanggung jawab bersama, sekaligus mendorong terbentuknya jejaring mahasiswa yang solid dalam menjaga lingkungan dan masa depan Riau.

 

(Basri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode