Publikasiterkini.com° Pasuruan – Kecamatan Puspo kini memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung susu sapi perah terbesar yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan. Melalui pengelolaan KUD Sembada, ribuan liter susu segar dari peternak lokal berhasil dikumpulkan untuk memenuhi standar kebutuhan gizi nasional.
Produksi harian saat ini telah mencapai angka yang cukup fantastis berkat dukungan penuh dari ribuan peternak di tujuh desa sekitar. Desa Jimbaran dan Janjang Wulung tercatat sebagai wilayah penyumbang volume susu terbanyak dibandingkan desa-desa lainnya di Kecamatan Puspo.
Ketua KUD Sembada, Purwo Budi Setyawan, menjelaskan bahwa pihaknya menaungi setidaknya 2.700 peternak untuk menghasilkan puluhan ton susu setiap harinya. “Sekarang ini semua susu kita kirim ke Ultra Jaya di Bandung dan juga Indolakto,” ujar pria yang akrab disapa Iwan tersebut, Minggu (24/1/2026).
Dalam menjaga kualitas, pihak koperasi mengoperasikan 12 pos penampungan sementara yang tersebar strategis di berbagai titik desa. Di lokasi ini, susu segar langsung masuk ke proses pendinginan dengan suhu khusus sebelum didistribusikan ke industri pengolahan susu (IPS).
Selain melayani perusahaan besar, koperasi ini tetap memprioritaskan ketersediaan susu murni bagi konsumsi masyarakat di wilayah Pasuruan. Hal ini dilakukan guna mendukung kesehatan warga lokal melalui akses protein hewani yang mudah didapat dan berkualitas tinggi.
Iwan menegaskan bahwa setiap tetes susu yang masuk harus melewati seleksi ketat sesuai standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. “Kami tekankan kepada para peternak bahwa kami tidak beli susu, tapi beli kualitas,” tegasnya.
Koperasi kini sedang merancang strategi besar untuk meningkatkan target produksi harian hingga mencapai angka 40 ton pada periode mendatang. Langkah ini ditempuh melalui program investasi ratusan ekor sapi perah baru serta peningkatan kualitas pakan yang diberikan kepada ternak warga.
Guna mendukung rencana tersebut, pihak KUD menjalin sinergi perbankan untuk pengadaan investasi sapi dengan sistem bagi hasil yang saling menguntungkan. “Anak sapi pertama yang dilahirkan menjadi milik koperasi, dan anak kedua milik peternak, begitu seterusnya,” pungkas Iwan menutup penjelasan.
Sofi/bj


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini