Publikasiterkini.com° Surabaya – Dalam rangka memperingati satu abad Nahdlatul Ulama (NU) versi Masehi (1926–2026), posko kegiatan Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama dibuka di Jl. Pegirian 208–214, depan Kebondalem Gang 7, Surabaya, Minggu (4/1/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian napak tilas nasional yang menelusuri jejak spiritual dan historis para muassis (pendiri) NU, mulai dari Bangkalan, Madura, hingga Tebuireng, Jombang. Kawasan Pegirian dipilih karena memiliki nilai historis kuat bagi NU, salah satunya kedekatannya dengan makam KH Ahmad Dahlan Akhyad di Pemakaman Kebondalem, serta peran penting ulama setempat dalam fase awal berdirinya NU.
Posko napak tilas tersebut juga membuka donasi terbuka dari masyarakat, baik berupa kue, nasi, minuman, maupun dana konsumsi, guna mendukung kelancaran kegiatan dan pelayanan bagi para peserta napak tilas.
Lurah Perak Barat, Saefuddin Zuhri, S.Kep.Ns, M.Kes, turut hadir langsung di posko dengan mengenakan seragam Banser, sebagai bentuk partisipasi aktif dalam napak tilas muassis NU. Kehadirannya sekaligus menegaskan dukungan pemerintah kelurahan terhadap kegiatan keagamaan dan pelestarian sejarah NU di wilayah Perak Barat.

“Napak tilas ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi ikhtiar bersama untuk merawat ingatan sejarah, menghormati jasa para muassis, dan meneguhkan kembali nilai-nilai ke-NU-an yang telah mengakar di masyarakat,” ujar Saefuddin Zuhri di sela kegiatan.
Ia menambahkan, kawasan Pegirian dan Kebondalem memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga warisan sejarah NU.
“Sebagai aparatur pemerintah di wilayah yang memiliki jejak kuat perjuangan ulama NU, kami merasa berkewajiban hadir dan mendukung. Semangat khidmah, kebangsaan, dan persatuan yang diwariskan para pendiri NU harus terus kita rawat dan hidupkan, terutama di tengah tantangan zaman saat ini,” tegasnya.
Secara keseluruhan, kegiatan napak tilas NU di Surabaya melibatkan ribuan peserta dari berbagai daerah. Rombongan singgah di sejumlah titik penting, di antaranya Makam Sunan Ampel dan Kantor PCNU Surabaya yang merupakan bekas kantor lama PBNU.
Momentum satu abad NU ini menjadi ruang refleksi ruhani sekaligus pengingat pentingnya menjaga sanad keilmuan, tradisi keulamaan, dan komitmen kebangsaan yang sejak awal menjadi fondasi Nahdlatul Ulama.
(Basri)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini