Menu

Tebang Pilih di Sawunggaling: Ketika Warakawuri Terusir dan Keadilan Dipertanyakan

Mei 2, 2026

Publikasiterkini° Surabaya _ Suasana di Perumahan AURI Sawunggaling, Kecamatan Wonokromo, mendadak mencekam pada Senin (27/4/2026). Ratusan personel TNI AU berseragam lengkap beserta iring-iringan armada militer mendatangi lokasi, bukan untuk latihan tempur, melainkan untuk melaksanakan eksekusi pengosongan rumah dinas.

​Namun, di balik deru mesin kendaraan militer tersebut, terselip sebuah ironi besar. Objek yang dihadapi bukanlah musuh negara, melainkan para pensiunan dan warakawuri (janda purnawirawan) yang telah menghabiskan puluhan tahun menjaga memori pengabdian suami mereka kepada tanah air.

Kejanggalan di Lapangan: “Satu yang Tersisa”

​Aksi penertiban ini memicu polemik mengenai asas keadilan. Dari 10 rumah yang semula diagendakan untuk dikosongkan, tim eksekutor hanya mengeksekusi 9 rumah. Satu rumah lainnya luput dari pembongkaran tanpa alasan yang jelas.

​Kejanggalan ini memicu tudingan adanya praktik tebang pilih dalam proses penertiban. Budi, salah satu anak warakawuri yang rumahnya dikosongkan, melayangkan protes keras di lokasi.

​“Kalau dieksekusi satu ya eksekusi semua, jangan hanya tebang pilih. Ini penegakan aturan atau sistem seleksi?” cetusnya di tengah proses pengangkutan barang.

Ratapan di Hari Tua

​Hasnah (83), salah satu warakawuri yang terdampak, tampak terduduk lemas di sebuah warung di depan gang. Di usianya yang senja, ia harus menyaksikan pintu dan jendela rumahnya dilepas, memaksa kenangan puluhan tahun dikemas dalam kardus-kardus darurat.

Baca Juga :  Ditlantas Polda Jatim Gelar Operasi Dakgar Handheld Serentak di Berbagai Wilayah Jawa Timur

​”Dalam usia saya saat ini, saya masih harus memikirkan tempat tinggal. Suami saya dulu mengabdi tanpa pamrih. Saya hanya ingin akhir hayat saya tenang,” ucap Hasnah dengan suara bergetar.

Abaikan Jalur Komunikasi Hukum

​Kuasa hukum warga, Arfan, menyatakan kekecewaannya terhadap sikap administratif pihak TNI AU. Menurutnya, surat keberatan dan permohonan penundaan eksekusi yang dilayangkan pada Jumat (25/4/2026) hingga kini belum mendapatkan balasan resmi.

​Saat melakukan negosiasi di lapangan, Arfan menyebut pihak otoritas hanya memberikan jawaban normatif yang dingin: “Silakan bersurat resmi.” Padahal, di saat yang sama, fisik bangunan warga sedang dipreteli oleh petugas.

Kesimpulan: Krisis Nurani di Balik Surat Perintah

​Tragedi di Sawunggaling ini menjadi potret buram penghormatan terhadap jasa veteran. Jika dulu para prajurit diajarkan untuk tidak meninggalkan kawan di medan laga, kini para janda mereka justru merasa ditinggalkan oleh institusi yang pernah dibela suami mereka.

​Senin sore itu, yang diangkut oleh armada militer bukan sekadar perabotan rumah tangga, melainkan juga rasa hormat dan kepercayaan warga terhadap keadilan institusional. Sawunggaling kini menyisakan tanda tanya besar: Di mana nurani saat aturan ditegakkan secara parsial? lmbd

(Redaksi)

Baca Juga :  Polda Jatim All Out Amankan Rangkaian Peringatan Hari Buruh Internasional di Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode