Publikasi-terkini.com° Jember – Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi milik Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, menganggarkan Rp 1,8 miliar untuk menyediakan susu formula bagi kurang lebih 500 bayi dan balita yang mengalami tengkes atau stunting di Kecamatan Tanggul dan Jombang.
Program sosial ini bernama Hospital Without Wall. “Jadi kami tidak hanya melayani di rumah sakit, tapi juga ke kecamatan. Sesuai dengan kemampuan kami, baru dua kecamatan,” kata Pelaksana Tugas Direktur RSD dr. Soebandi Nyoman Semita, Kamis (12/2/2026).
Program ini diagendakan berjalan tiga bulan sejak Januari 2026 dan sudah berjalan selama satu bulan setengah. RSD dr. Soebandi memberangkatkan dua dokter, tiga dokter muda, perawat, bidan, dan juga anggota Dharma Wanita untuk jemput bola mengantarkan susu formula untuk masing-masing balita dan mengecek kondisi mereka.
Tim dari dr. Soebandi bekerja sama dengan kader posyandu dan petugas bintara pembina desa (babinsa) TNI untuk mendorong kesadaran para orang tua yang memiliki balita stunting.
“Kenapa jemput bola? Kalau bayi balita datang ke rumah sakit itu kan susah. Mengimpulkannya susah, mengantarnya susah. Harus ada pendamping,” kata Semita. Apalagi saat ini tengkes atau stunting sudah menjadi stigma negatif di masyarakat.
Balita dan bayi stunting ini dipicu banyak faktor. “Ibu yang melahirkan prematur, mengalami kelainan jantung, sesak saat melahirkan, pasti bakal terganggu bayinya. Diberi makan sulitm tumbuh pun sulit,” kata Semira.
Kurang lebih ada 200 balita di Kecamatan Jombang dan 300 balita di Kecamatan Tanggul yang disasar program ini, Masing-masing membutuhkan 24 kotak susu formula. Targetnya, setelah tiga bulan jumlah balita yang tidak stunting mencapai 80 persen dari penerima bantuan tersebut.
“Setelah satu bulan kami evaluasi. Berat anak-anak naik satu kilogram, tinggi badan naik 1,5 centimeter, dua centimeter. Jadi saya sangat optimistis setelah tiga bulan nanti hasilnya bagus,” kata Semita.
Tentu saja upaya RSD dr. Soebandi tidak mudah. “Ada yang susunya sudah dikasih tapi enggak diminum, jadi harus ada yang menyuapi,” kata Semita.
Program stunting ini berintegrasi dengan program pendataan tuberkulosis (TBC). “Kita masih juara kedua atau juara pertama di seluruh Jatim. Kami ingin memberikan sumbangan berbasis data. Kajiannya nanti kajian ilmiah dan masuk ke jurnal. Ini bisa berguna untuk pimpinan dalam mengambil kebijakan,” kata Semita.
Sofi/bj


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini