Publikasiterkini° Surabaya _ Kondisi Dewan Kesenian Surabaya (DKS) kembali menjadi sorotan. Seniman senior Surabaya, Kusnan, melontarkan kritik tajam terhadap perubahan yang terjadi di tubuh lembaga kesenian tersebut. Ia menilai DKS kini telah kehilangan fungsi idealnya sebagai tempat lahirnya seniman dan karya budaya besar.
Menurut Kusnan, DKS pada masa lalu merupakan “kawah candradimuka” bagi para seniman muda untuk ditempa menjadi tokoh besar di bidang seni dan budaya. Namun kini, ia menyebut lembaga itu justru berubah menjadi “kolam pancing berair keruh” yang sarat kepentingan.
“DKS dahulu itu kawah candradimuka, DKS sekarang hanya kolam pancing,” tegas Kusnan, Senin (11/5/2026).
Ia mengenang era 1980-an saat sekretariat DKS masih sederhana dan jauh dari kesan mewah. Meski hanya menempati bangunan kecil yang bahkan diibaratkan seperti kamar kos buruh pabrik, tempat tersebut justru melahirkan banyak seniman dan karya monumental.
Berbeda dengan kondisi saat ini. Sekretariat DKS berdiri megah di kawasan strategis depan Cagar Budaya Balai Pemuda Surabaya. Namun menurut Kusnan, kemegahan fisik itu tidak lagi mencerminkan kualitas maupun semangat berkesenian seperti dulu.
“Sekretariat DKS sekarang hanya rumah tua, bukan rumah produksi sastrawan atau seniman. Sudah bukan kawah candradimuka lagi, melainkan kolam pancing berair keruh. Siapa saja yang punya kepentingan bisa memancing di situ,” ujarnya.
Kritik Kusnan terhadap tata kelola DKS sebenarnya sudah disampaikan sejak pembentukan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Surabaya (DKKS) pada 10 Juni 2022. Saat itu, ia mengingatkan pembentukan lembaga baru tersebut berpotensi memecah belah kalangan seniman dan membuat mereka mudah dipengaruhi kepentingan kekuasaan.
“Bergandengan tangan dengan pemerintah itu wajar, tapi jangan sampai menjadi boneka,” kata Kusnan.
Ia juga menyinggung kepemimpinan Ketua DKS Chrisman yang masa jabatannya disebut telah berakhir pada Desember 2024. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada musyawarah besar untuk memilih kepengurusan baru.
Kondisi tersebut dinilai membuat organisasi berjalan tanpa arah yang jelas dan semakin memperuncing konflik internal di kalangan seniman Surabaya.
“Dulu saya kira era kepemimpinan Chrisman akan lebih maju dan merakyat. Tapi ternyata hasilnya sama saja, tetap memecah belah para seniman,” ucapnya.
Situasi DKS disebut semakin memanas setelah kantor sekretariat lembaga itu disegel Satpol PP. Di tengah kondisi tersebut, Chrisman disebut mulai kembali menggalang dukungan bersama sejumlah seniman, mahasiswa, dan aktivis budaya.
Di akhir pernyataannya, Kusnan menyampaikan pesan bijak dalam bahasa Jawa sebagai refleksi atas kondisi yang terjadi saat ini.
“Kudu gede atine, kudu dowo pikirane. Kadang seng mok pikir, bedo karo kenyataan. Opo mane seng mok kareb, adi karo kasunyatan,” tuturnya.
Ia berharap polemik berkepanjangan di tubuh DKS segera menemukan solusi terbaik agar nama besar kesenian Surabaya tidak terus tergerus oleh konflik kepentingan dan perebutan kekuasaan.
(Munawar)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini