Menu

Alumni Sukorejo 1979-1989: Makna Sejati Sholat Sebagai Wujud Syukur Paling Hakiki

Maret 25, 2026

Publikasi-terkini° Bangkalan _ Di tengah hiruk-pikuk modernitas, sosok H. Hantoni, atau yang lebih akrab disapa Abah Umar, hadir sebagai oase bagi masyarakat yang mencari ketenangan jiwa. Tinggal di Langkap, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tahun 1979-1989 ini dikenal sebagai tokoh yang mampu memberikan pencerahan mendalam melalui pendekatan spiritual yang menyejukkan.

​Abah Umar memiliki akar keilmuan yang sangat kuat. Selama menimba ilmu di Sukorejo antara tahun 1979 hingga 1989, ia merupakan salah satu santri yang beruntung karena sempat berguru langsung kepada sosok ulama kharismatik, K.H. R. As’ad Syamsul Arifin. Kedalaman ilmunya mencakup spektrum yang luas, mulai dari pemahaman syariat, thoriqot, hakikat, hingga makrifat.

​Selain di Sukorejo, pengembaraan spiritualnya berlanjut hingga ke Nganjuk, tepatnya di Mojoduwor. Di sana, ia mendalami ilmu thoriqot yang dikenal dengan sebutan Asmaul Haq. Landasan dzikirnya berpegang teguh pada ayat:

​”Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub” (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram).

​Dalam sebuah pertemuan di kediamannya, Abah Umar menekankan bahwa sholat bukanlah sekadar kewajiban formal, melainkan bentuk tertinggi dari rasa terima kasih makhluk kepada Sang khalik.

Baca Juga :  Estafet Kepemimpinan DPP AMP: H. Holis Terpilih Sebagai Ketua Umum, Organisasi Bertransformasi Menjadi Aliansi Masyarakat Perantau

​”Sholat itu adalah ucapan terima kasihmu kepada Allah, karena kita telah diberikan kehidupan secara gratis. Ini adalah perintah istimewa. Jika perintah lain turun melalui perantara Malaikat Jibril, sholat adalah perintah yang diterima langsung oleh Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat menghadap Allah SWT,” tutur beliau dengan penuh kesederhanaan, Selasa (24/3/2026).

​Salah satu pesan kunci yang sering ia gaungkan adalah pentingnya pengenalan diri. Menurutnya, barangsiapa yang mengenal diri sejatinya, maka ia akan sampai pada pengenalan terhadap Tuhannya (Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu).

​Jika seseorang telah mengenal jati dirinya, maka sifat sombong akan luruh dengan sendirinya dan mereka tidak lagi haus akan pengakuan dari sesama manusia karena fokusnya hanya pada Sang Khalik.

​Menutup pesannya, Abah Umar memberikan peringatan keras mengenai realitas sosial saat ini. Ia berpesan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mencari guru di era sekarang.

​”Sekarang banyak orang pintar dan cerdas, tapi sedikit orang yang jujur kepada dirinya sendiri. Jika seseorang sudah tidak bisa jujur pada dirinya sendiri, itu sama saja mendustai Sang Pencipta, apalagi kepada sesama makhluk,” tegasnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Pelayanan, Satpas SIM Colombo Surabaya Terapkan Budaya 3S dan Atribut Selempang Khusus

​Beliau pun mengajak untuk senantiasa menghidupkan hati melalui dzikir “Allah” dan memperbanyak sholawat, dengan harapan semata-mata mengharap syafaat dari Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW di hari kelak.

 

(Basri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode