Publikasi-terkini° Jakarta _ Pengusaha angkutan penyeberangan mengungkapkan adanya fenomena kapal feri yang beroperasi tanpa muatan atau hanya menurunkan kendaraan di pelabuhan tujuan tanpa membawa muatan kembali.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP), Khoiri Soetomo, menjelaskan kondisi tersebut terjadi akibat keterbatasan fasilitas pelabuhan serta kebijakan pengaturan distribusi kendaraan pada periode tertentu.
Menurutnya, pada beberapa lintasan penyeberangan strategis seperti Pelabuhan Merak–Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Ketapang–Pelabuhan Gilimanuk, jumlah kapal sebenarnya telah mencukupi.
Namun, keterbatasan kapasitas dermaga membuat sebagian kapal tidak dapat mengangkut penumpang maupun kendaraan secara maksimal.
“Jumlah kapal sebenarnya sudah mencukupi bahkan cenderung berlebih. Persoalan yang terjadi lebih disebabkan oleh keterbatasan kapasitas dermaga,” ujar Khoiri, Jumat (6/3).
Ia menjelaskan bahwa pada periode tertentu seperti musim mudik Lebaran, kebijakan pengaturan arus kendaraan juga dapat memunculkan ketidakseimbangan distribusi kendaraan antara pelabuhan utama dan pelabuhan alternatif.
Sebagai contoh, saat pelabuhan utama relatif lengang, pelabuhan penunjang seperti Pelabuhan Bandar Bakau Jaya dan Pelabuhan Ciwandan justru mengalami antrean panjang kendaraan, terutama kendaraan barang.
Dalam situasi tersebut muncul pola operasi Tiba Bongkar Berangkat (TBB), yaitu kapal hanya menurunkan muatan di pelabuhan tujuan lalu kembali berangkat tanpa membawa muatan baru.
“Dalam situasi tersebut kapal tetap beroperasi dengan biaya penuh namun tanpa pendapatan yang seimbang,” kata Khoiri.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menyebabkan operator penyeberangan harus menanggung beban ekonomi yang cukup besar demi menjaga kelancaran arus transportasi, khususnya selama periode mudik,(br).
Red•


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini