Publikasiterkini.com° Surabaya – Penjualan kembang api menjelang perayaan pergantian tahun 2025 ke Tahun Baru 2026 di Surabaya terpantau menurun signifikan. Kondisi ini dirasakan langsung para pedagang, seiring adanya imbauan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi agar masyarakat tidak merayakan malam tahun baru secara berlebihan, termasuk menggelar pesta kembang api.
Selain faktor imbauan pemerintah, kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi daya beli.
Salah satu pedagang kembang api di kawasan Jalan Pasar Kembang, Surabaya, Hani Amanda, mengungkapkan bahwa penjualan tahun ini jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Suasana pasar yang biasanya ramai menjelang malam pergantian tahun kini terasa jauh lebih sepi.
“Penjualan kembang api dari tahun kemarin perbandingannya beda jauh sekali. Tahun ini sepi banget. Beberapa waktu lalu ada imbauan dari pemerintah untuk tidak menyalakan kembang api, jadi kemungkinan orang-orang juga agak takut. Selain itu, kondisi ekonomi sekarang membuat orang lebih memilih beli kebutuhan lain daripada kembang api,” ujar Hani, Selasa (30/12).
Hani menyebutkan omzet penjualan kembang api tahun ini turun hingga 50 persen. Padahal, biasanya tiga hari menjelang malam tahun baru menjadi puncak keramaian pembeli.
“Harusnya tiga hari sebelum hari H itu ramai-ramainya. Banyak pembeli yang mau liburan ke Malang, Batu, atau Trawas, biasanya mampir ke sini dulu buat beli kembang api. Sekarang sepi, hampir 50 persen penurunannya,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, stok kembang api sebenarnya sudah dipersiapkan sejak awal Desember. Namun, imbauan pemerintah yang disampaikan beberapa hari terakhir membuat dampaknya sangat terasa bagi para pedagang.
“Barang sudah datang sejak awal Desember. Begitu ada imbauan, kelihatan banget imbasnya. Bahkan ada pembeli yang sudah beli jauh-jauh hari minta dikembalikan karena tidak bisa dipakai. Ya mau bagaimana lagi, kita terima karena memang tidak bisa digunakan,” katanya.
Kembang api yang tidak terjual tersebut rencananya akan disimpan dan dijual kembali pada momen Lebaran mendatang.
Hani menambahkan, sebagian besar kembang api yang dijual merupakan barang impor dari Tiongkok yang masuk melalui Jakarta sebelum dikirim ke Surabaya.
“Barangnya impor dari Cina, lewat Jakarta dulu. Sistemnya titip barang, kalau laku baru kita bayarkan,” imbuhnya.
Untuk jenis kembang api, stok yang disiapkan setiap tahun relatif sama. Mulai dari kembang api pesta sekali bakar dengan 100 hingga 300 tembakan berharga jutaan rupiah, hingga kembang api sederhana seperti pipa seharga sekitar Rp40 ribu per pak isi empat batang. Selain itu, kembang api jenis air mancur juga cukup diminati karena dinilai lebih aman untuk anak-anak.
“Harga pembelian bervariasi, mulai Rp30 ribu sampai Rp3 juta, tergantung jenis kembang apinya,” jelas Hani.
Mayoritas pembeli berasal dari Surabaya dan daerah sekitarnya seperti Sidoarjo. Ada yang membeli untuk digunakan sendiri di rumah, ada pula yang membeli untuk dijual kembali oleh pedagang kaki lima.
“Sekarang yang beli masih ada, tapi kebanyakan individu. Penurunannya memang drastis,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu pembeli, Johnny Anggo, warga Surabaya, mengaku tetap membeli kembang api untuk memeriahkan malam tahun baru bersama keluarga di rumah. Namun, ia memilih jenis yang aman dan tidak menimbulkan suara keras.
“Tadi beli kembang api air mancur, yang tidak ada letusannya. Soalnya kalau yang meledak bisa mengganggu tetangga. Ini beli dua macam, tingginya sekitar satu meter,” kata Johnny.
Ia mengaku hampir setiap tahun merayakan malam pergantian tahun dengan kembang api. Namun, tahun ini ia lebih selektif menyikapi imbauan pemerintah.
“Terkait imbauan itu, saya pikir lebih ke petasan. Makanya saya cari yang lebih aman saja, kembang api air mancur. Sempat bimbang juga, tapi akhirnya pilih yang aman,” tuturnya. (rs)
(Redaksi)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini