SURABAYA° Pt.com _ Di tengah dinamika perkotaan dan kesibukan menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kerap menguras energi, sebuah pendekatan humanis dan spiritual hadir dari jajaran Kepolisian.
Aiptu Affan Hermansyah, seorang anggota Polri yang bertugas di Surabaya, menawarkan oase penyejuk jiwa lewat refleksi mendalam bertajuk “Modale Mung Yakin”. Konsep makrifatul qulub (pengenalan hati) ini membedah hakikat ketenangan hidup di tengah hiruk-pikuk dunia.
Bagi Aiptu Affan, tugas menjaga keamanan tidak hanya sebatas penegakan hukum atau patroli fisik di lapangan. Lebih dari itu, ada dimensi batiniah yang esensial untuk disentuh. Ketika hati masyarakat tenang, tertata, dan memiliki fondasi tauhid yang kokoh, maka kedamaian publik akan tercipta dengan sendirinya.
Berikut adalah enam pilar perenungan spiritual “Modale Mung Yakin” yang dirajut oleh Aiptu Affan untuk menyelimuti hati masyarakat dengan kedamaian:
1. Fondasi Hidup: Modale Mung Yakin
Segala kebaikan di semesta ini bermula dari hati yang bersih. Aiptu Affan menegaskan bahwa mengarungi kehidupan harus diawali dengan keteguhan tauhid yang utuh. Konsep “Modale Mung Yakin” (modalnya hanya yakin) merupakan bahan bakar utama dari niat yang ikhlas. Ketika seseorang menaruh keyakinan mutlak pada setiap ketetapan Allah SWT, ujian seberat apa pun tidak akan mampu menggoyahkan langkahnya. Setiap langkah yang diawali karena-Nya pasti akan berujung pada keberkahan.
2. Membunuh Hasad: Rezeki Tak Akan Tertukar
Kegaduhan sosial kerap kali lahir dari rasa cemburu dan kecemasan berlebihan terhadap urusan duniawi. Melalui pendekatan makrifat, Aiptu Affan mengingatkan masyarakat untuk menyeka kekhawatiran tersebut. Allah SWT telah membagi porsi rezeki secara presisi sejak manusia dalam kandungan. Tugas manusia hanyalah menjemputnya dengan cara yang halal dan terhormat. Apa yang menjadi hak seseorang diyakini tidak akan pernah tertukar atau jatuh ke tangan orang lain.
3. Energi Rohani: Innallaha Ma’ashobirin
Sabar sering kali disalahartikan sebagai bentuk kepasrahan yang lemah. Padahal, dalam benteng rohani, sabar adalah puncak kekuatan spiritual tertinggi. Mengutip firman Allah SWT, Aiptu Affan menekankan bahwa pertolongan khusus dari Sang Pencipta hanya didekap oleh hamba-hamba-Nya yang mampu menahan diri, ikhlas, dan konsisten berjalan di atas kebenaran saat badai ujian menerpa.
4. Dua Sayap Penolong: Sholat dan Sabar
Saat beban hidup menghimpit dan jalan keluar tampak buntu, manusia sering kali kehilangan arah. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah memberikan panduan utama: jadikan sholat dan sabar sebagai penolong. Sholat adalah tali vertikal untuk mengadu langsung kepada Sang Pemilik Semesta, sementara sabar adalah jangkar agar hati tetap teduh menantikan jawaban doa.
5. Harmoni Jiwa: Berusaha dan Bersabar
Islam menuntut keseimbangan yang dinamis antara ikhtiar lahiriah dan batiniah. Muslim yang bijak tidak akan bermalas-malasan; mereka mengerahkan usaha terbaiknya secara profesional. Namun, setelah peluh menetes, mereka menyerahkan serta menyabarkan hatinya atas takdir yang digoreskan oleh-Nya.
6. Puncak Tauhid: Iyyāka Na’budu wa Iyyāka Nasta’īn
Inilah inti dari perjalanan hati, yakni memutus ketergantungan pada makhluk dan menyandarkan seluruh jiwa hanya kepada Allah SWT. Kalimat dari Surah Al-Fatihah ini mengajarkan bahwa tidak ada tempat berlindung selain Dia. Ketika pelayanan masyarakat dan tugas kepolisian dijalankan dengan prinsip ini, setiap tindakan akan bernilai ibadah murni demi mengharap ridha-Nya.
Melalui getaran pesan “Modale Mung Yakin” ini, Aiptu Affan Hermansyah berharap tulisan ini dapat menjadi pencerahan yang mempererat tali silaturahmi antar-sesama, sekaligus melahirkan situasi kamtibmas yang aman, damai, dan kondusif di tengah masyarakat.
(KJN)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini