Publikasiterkini.com // Surabaya – Banjir masih menjadi ancaman serius bagi Kota Surabaya sebagai salah satu metropolis di Indonesia, terutama saat curah hujan tinggi. Beberapa genangan air yang muncul pasca-hujan deras baru-baru ini menyoroti masalah drainase yang belum memadai, kata Dio Alif Hutama, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
“Fenomena banjir di beberapa wilayah Surabaya menunjukkan kapasitas infrastruktur drainase perkotaan masih belum memadai, khususnya menghadapi cuaca ekstrem. Permukaan tanah yang tertutup beton membuat air tidak meresap optimal, sementara saluran air mengalami sedimentasi dan keterbatasan kapasitas,” ungkap Dio pada Sabtu (15/11/2025).
Menurut Dio, banjir musim penghujan dipicu kombinasi faktor alam dan manusia. Curah hujan tinggi dalam waktu singkat sering melebihi daya tampung drainase, apalagi jika tersumbat sampah atau sedimentasi. “Makin banyak beton dan aspal membuat air hujan mengalir langsung ke permukiman atau jalan. Di wilayah pesisir seperti Surabaya, banjir rob akibat gelombang pasang di Selat Madura bisa memperburuk situasi,” jelasnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan di Surabaya pada Januari–Februari 2026, dengan potensi cuaca ekstrem. Dio mendesak Pemerintah Kota Surabaya mengambil langkah antisipatif sebelum periode tersebut.
Langkah prioritas meliputi normalisasi saluran, perawatan pompa air, serta memastikan pintu air dan pintu laut berfungsi optimal.
“Tata kelola kota harus terpadu, tidak hanya perbaikan saluran, tapi juga pengelolaan ruang berkelanjutan. Hindari alih fungsi lahan resapan seperti ruang terbuka hijau dan lahan basah,” tegasnya.
Ia juga menyarankan optimalisasi bozem atau kolam retensi sebagai penampung sementara air hujan sebelum dialirkan ke sungai atau laut. Penegakan tata ruang harus dibarengi edukasi masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran.
“Penanganan banjir memerlukan kerjasama berbagai pihak. Pemerintah optimalkan infrastruktur dan tata ruang, sementara masyarakat aktif jaga lingkungan. Sinergi ini diharapkan wujudkan Surabaya yang nyaman,” pungkas Dio.
(Red/ss)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini