Publikasiterkini.com // Surabaya – Ketua Garda Bangsa Kota Surabaya sekaligus Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya, Nasfa Uuth Akhmadie, mengajak generasi muda untuk menyalakan kembali semangat Sumpah Pemuda sebagai mandat moral kontemporer di era digital saat ini. (28/10)
Menurut Nasfa, peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum untuk merefleksikan nilai-nilai persatuan yang diwariskan para pendahulu bangsa.
“Tanggal 28 Oktober 1928 bukan cuma angka di kalender, tapi momen di mana para pemuda dari berbagai latar belakang bersepakat untuk bersatu. Sumpah Pemuda itu ibarat api yang tidak pernah padam,” ujarnya.
Dalam pandangan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah, lanjutnya, janji atau ikrar adalah ikatan yang suci dan wajib ditepati.
“Al-Mu’āhadatu kal ‘aqdi — perjanjian itu laksana ikatan yang kuat. Maka Sumpah Pemuda adalah ikatan moral bangsa yang harus dirawat dan dihidupi oleh setiap generasi,” tegasnya.
Dari Ikrar Jadi Aksi Nyata
Nasfa menilai, semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai hafalan dalam buku pelajaran. Tiga butir ikrar itu harus diterjemahkan dalam tindakan nyata untuk menjaga Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.
Ia juga menyoroti fenomena media sosial yang kini sering menjadi arena perpecahan akibat “ruang gema” atau echo chamber.
“Di sinilah prinsip NU bisa menjadi penuntun: Al-Muhāfaẓatu ‘alā qadīmis shālih wal akhdu bil jadīdil ashlah — menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih bermanfaat,” jelasnya.
Menurutnya, keragaman adalah warisan Nusantara yang harus dijaga, sementara teknologi digital perlu dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan, bukan sebaliknya.
Kepemimpinan dan Kepekaan Sosial
Lebih lanjut, Nasfa menyoroti fenomena meningkatnya minat anak muda terhadap isu sosial dan politik di era digital. Namun, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari popularitas di media sosial.
“Kepemimpinan yang sejati lahir dari kepekaan terhadap persoalan rakyat, bukan dari banyaknya followers,” katanya.
Ia menekankan pentingnya nilai kemaslahatan dalam setiap tindakan pemimpin, merujuk pada kaidah Tasharruful imām ‘alā ra’iyyatihī manūṭun bil maslahah — setiap kebijakan harus didasarkan pada kemaslahatan rakyat.
Menjadi Pemuda yang Berpijar
Nasfa mengajak generasi muda untuk menjadi pribadi yang “berpijar”, bukan sekadar “berkedip”.
“Pemuda yang berpijar memiliki konsistensi dan keteguhan hati, memberi cahaya bagi sekitar. Bukan hanya viral sesaat lalu hilang,” ujarnya.
Prinsip Islam Aswaja, katanya, mengajarkan bahwa tindakan nyata jauh lebih penting daripada sekadar ucapan.
“Al-‘amalu khairun min al-qaul — bekerja lebih baik daripada hanya berbicara. Perjuangan bukan soal debat, tapi menjaga api semangat agar tetap menyala,” tambahnya.
Ia juga menekankan tiga sikap utama bagi generasi muda: Ikhlas, Istiqomah, dan Khidmah — tulus, konsisten, dan mengabdi kepada umat dan bangsa.
Menulis Masa Depan Indonesia
Sebagai penutup, Nasfa mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda bukan monumen masa lalu, melainkan mandat moral yang hidup di setiap langkah generasi kini.
“Empat pilar yang harus dijaga adalah: sumpah sebagai janji kolektif, kepemimpinan yang peduli, semangat hukum berkeadilan, dan kedaulatan dalam bermedia digital,” tuturnya.
Dengan energi, kreativitas, dan keterampilan digital yang dimiliki, generasi muda diyakini mampu mewujudkan cita-cita mulia Sumpah Pemuda — Indonesia yang berdaulat, adil, dan bermartabat di mata dunia.
“Menjadi pemuda yang berpijar berarti melanjutkan estafet perjuangan dengan memberi makna baru bagi Indonesia masa kini dan masa depan,” pungkas Nasfa.
(Red)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini