Menu

Kisah Pilu di Balik Ambruknya Musholla Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: Nyawa Terselamatkan di Tengah Reruntuhan

Oktober 5, 2025

Publikasiterkini.com // Sidoarjo – Insiden ambruknya musholla tiga lantai di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9/2025), menyisakan kisah pilu dan haru dari para korban yang berhasil selamat. Hingga Sabtu (4/10/2025), Kepala Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, melaporkan total korban mencapai 118 orang, dengan 14 meninggal dunia dan 104 lainnya selamat.

Proses evakuasi yang dilakukan Tim SAR Gabungan berlangsung penuh ketegangan. Selain menghadapi risiko tinggi, para petugas juga harus bekerja di tengah reruntuhan yang sewaktu-waktu bisa ambruk kembali. Dari tragedi ini, muncul kisah-kisah menyentuh tentang keberanian, ketabahan, dan keajaiban yang dialami para santri.

Salah satu korban selamat, Nur Ahmad, berhasil diselamatkan setelah tangan kirinya harus diamputasi di lokasi kejadian karena terhimpit reruntuhan. Salah satu tenaga medis, dr. Aaron Franklyn Suaduon Simatupang, menceritakan detik-detik menegangkan saat proses evakuasi.

“Saya sudah siap mati bersama pasien kalau bangunan runtuh. Tapi prioritas utama adalah menyelamatkan nyawanya,” ujar Aaron.

Beruntung, Ahmad berhasil dibawa ke ICU dan selamat dari ancaman maut.

Kisah lain datang dari Syaiful Rosi Abdillah (13), yang bertahan hidup selama tiga hari di bawah reruntuhan bersama enam temannya. Selama terjebak, Rosi hanya bisa membaca selawat dan istighfar sambil berharap pertolongan datang. Telapak kakinya remuk akibat tertimpa beton, sehingga harus menjalani operasi amputasi. Ia mengaku sempat berusaha keras mendorong puing-puing sebelum akhirnya warga datang menolong pada tengah malam.

Baca Juga :  John Herdman: Kerapatan Formasi Kunci Perbaikan Timnas Jelang Lawan Singapura

Sementara itu, Syahlendra Haical alias Haikal (13), terjebak selama dua hari dengan pinggang tertimpa beton. Meski dalam kondisi sulit, Haikal tetap menunaikan salat bersama temannya. Namun saat waktu Subuh tiba, temannya sudah tidak bernyawa. Kisah ini menjadi bukti keteguhan iman dan ketabahan luar biasa para santri di tengah situasi kritis.

Ada pula kisah Al Fatih Cakra Buana (14), yang sempat mengira dirinya hanya tertidur saat musholla ambruk. Ia baru sadar setelah dievakuasi bahwa bangunan tempatnya beribadah telah hancur total. Fatih mengatakan dirinya merasa seperti berada dalam mimpi selama tiga hari terjebak, sementara tubuhnya terlindung oleh tumpukan pasir dan lembaran seng yang secara ajaib menyelamatkan nyawanya.

Tragedi ambruknya musholla Ponpes Al Khoziny ini meninggalkan duka mendalam sekaligus pelajaran berharga tentang arti ketabahan, keberanian, dan solidaritas di tengah bencana. Di balik puing-puing, tersimpan kisah keajaiban dan kekuatan iman yang tak mudah dilupakan.

 

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode