Menu

BHS Ajak Pemkot Semarang Angkat Batik Mangrove Malon ke Panggung Global

September 29, 2025
Anggota DPR-RI Bambang Haryo saat berkunjung ke Kampung Wisata Batik Malon Semarang/Foto : Istimewa

Semarang — Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), meminta Pemerintah Kota Semarang memberikan perhatian lebih serius terhadap pengembangan batik mangrove khas Kampung Batik Malon. Ia menilai produk ini memiliki keunikan yang layak dipromosikan hingga tingkat internasional.

Menurut BHS, keistimewaan batik Malon ada pada pewarnaannya yang menggunakan bahan alami dari mangrove. Dari total 225 jenis mangrove di Indonesia, sekitar 100 jenis sudah berhasil dimanfaatkan sebagai pewarna batik. “Ini keunggulan yang jarang dimiliki daerah lain. Sayangnya promosi di media sosial masih minim. Harus lebih gencar agar wisatawan tertarik berkunjung ke Malon,” kata politisi Fraksi Gerindra itu saat melakukan kunjungan kerja ke Kampung Batik Malon, Jumat (26/9/2025).

Ia mengusulkan agar promosi tidak hanya mengandalkan pameran lokal, tetapi juga memanfaatkan titik-titik strategis seperti bandara, stasiun, rest area, hingga Pelabuhan Tanjung Emas yang sering disinggahi kapal pesiar. BHS juga mendorong Badan Otorita Borobudur untuk menampilkan batik Malon di kawasan wisata internasional seperti Candi Borobudur.

Selain promosi, persoalan permodalan turut menjadi perhatian. BHS menekankan pentingnya akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga rendah untuk mendukung keberlanjutan usaha para perajin. “Di desa wisata sudah ada akses modal, tetapi di kelurahan seperti Malon belum tersedia. Pemerintah harus memastikan mereka bisa mendapat pembiayaan,” ujarnya.

Baca Juga :  Anyaman Rotan Sintetis Jadi Bekal Kemandirian Warga Binaan Lapas I Madiun

Ia juga menilai perlunya pendampingan dalam sertifikasi dan keterlibatan di ajang internasional. Dengan adanya standar nasional (SNI) dan sertifikat halal yang sudah dikantongi, batik Malon dinilai siap tampil di pameran global seperti World Expo Osaka.

Lebih jauh, BHS menyoroti pentingnya regenerasi perajin. “Rata-rata pembatik di Malon sudah berusia lanjut. Perlu ada program wisata edukasi batik untuk pelajar agar muncul generasi penerus. Pembiayaan bisa diupayakan melalui subsidi silang maupun dukungan CSR,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode