Menu

Gapasdap: Kemacetan Ketapang–Gilimanuk Tak Bisa Diselesaikan dengan Cara Biasa

Juli 13, 2026

Banyuwangi – Ketua Umum DPD Gapasdap, Khoiri Soetomo, menilai antrean panjang menuju Pelabuhan Ketapang merupakan persoalan luar biasa (extraordinary problem) yang membutuhkan langkah penanganan di luar kebiasaan. Menurutnya, kemacetan di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk tidak hanya berdampak terhadap konektivitas Jawa Timur dan Bali, tetapi juga mempengaruhi distribusi logistik menuju Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pernyataan tersebut disampaikan Khoiri usai mengikuti rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan di Pelabuhan Ketapang, Sabtu (11/7).

“Itu merupakan extraordinary problem. Jadi tidak bisa diselesaikan dengan cara yang biasa,” tegasnya.

Menurut Khoiri, persoalan utama di lintasan penyeberangan tersibuk kedua di Indonesia setelah Merak–Bakauheni itu bukan terletak pada kekurangan armada kapal. Justru sebaliknya, jumlah kapal yang tersedia melebihi kapasitas infrastruktur pelabuhan yang ada.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat 56 kapal yang tercatat melayani lintasan Ketapang–Gilimanuk. Namun, setiap hari hanya sekitar 28 kapal atau 50 persen yang dapat beroperasi, sementara sisanya harus menunggu giliran karena keterbatasan fasilitas sandar.

Artinya, kata Khoiri, bukan hanya kendaraan logistik yang mengantre untuk menyeberang, tetapi juga puluhan kapal yang setiap hari harus menunggu kesempatan beroperasi.

Baca Juga :  Tiga Komplotan Pencuri Sapi di Lumajang Ditangkap, Polisi Buru Otak Pelaku

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk masih mengalami kekurangan infrastruktur, terutama jumlah dermaga yang belum sebanding dengan armada kapal yang tersedia.

“Dengan jumlah kapal yang 56, seyogianya paling tidak di lintasan Ketapang-Gilimanuk ini setidak-tidaknya, idealnya, harusnya punya 14 pasang dermaga di Ketapang maupun di Gilimanuk,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila pemerintah belum mampu membangun 14 pasang dermaga sekaligus, setidaknya dilakukan penambahan satu pasang dermaga setiap tahun agar kapasitas pelayanan terus meningkat.

Menurut Khoiri, langkah tersebut menjadi solusi jangka panjang untuk menghindari antrean kendaraan yang selalu terjadi saat libur panjang, Natal dan Tahun Baru, maupun Idulfitri.

Selain penambahan jumlah dermaga, ia juga menyambut baik rencana PT ASDP Indonesia Ferry meningkatkan kapasitas daya muat dermaga dari sekitar 35 ton menjadi 50 ton.

“Mudah-mudahan dalam waktu setahun, dua tahun ini, setidak-tidaknya harapan saya, setidaknya ada tiga pasang dermaga yang bisa ditingkatkan kapasitasnya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode