Menu

Waspada Kemarau Panjang, Dispertan Gresik Amankan Air untuk 6.600 Hektare Padi

Juni 17, 2026

Publikasiterkini.com° Gresik _ Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Gresik terus bergerak taktis mengoptimalkan sisa ketersediaan air guna memastikan kegiatan tanam padi pada musim kedua tahun ini dapat berjalan lancar.

Langkah mitigasi ini diambil sebagai strategi agar target produksi pangan daerah tetap tercapai secara swasembada. Otoritas pertanian daerah kini memperketat pengawasan menyusul adanya prediksi ilmiah mengenai ancaman musim kemarau panjang yang berpotensi kuat memangkas pasokan air di lahan-lahan pertanian produktif.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dispertan Kabupaten Gresik, Choirul Fatikin, membeberkan performa pertanian daerah di mana pada musim tanam pertama yang berlangsung sepanjang bulan Januari hingga April 2026, total luas tanam padi di Kabupaten Gresik sukses menyentuh angka 29.808,84 hektare.

Sementara itu, saat memasuki siklus musim tanam kedua yang dijadwalkan berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026, basis data per 15 Juni 2026 mencatat luasan lahan tanam padi yang terealisasi telah mencapai 6.600,49 hektare.

Angka luasan tersebut merupakan hasil akumulasi riil dari lahan yang sudah ditanami oleh para petani dan saat ini posisinya masih berada dalam fase pertumbuhan vegetatif, sehingga belum memasuki masa panen raya.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Siaga Jaga Pasokan BBM Subsidi Pasca Kenaikan Pertamax

“Musim tanam pertama berlangsung pada bulan Januari sampai April. Kemudian musim tanam kedua pada bulan Mei sampai Agustus, dan musim tanam ketiga pada bulan September sampai Desember. Data per 15 Juni 2026 ini merupakan luasan tanam padi yang sudah ditanam dan posisinya belum panen,” ujar Choirul Fatikin saat merinci kalender sirkulasi tanam daerah, Selasa (16/6/2026).

Choirul Fatikin tidak menampik bahwa kendala laten sekaligus tantangan terberat yang berpotensi dihadapi oleh para petani pada fase musim tanam kali ini adalah jaminan stabilitas ketersediaan air irigasi.

Kendati hingga pertengahan bulan Juni ini belum ada laporan resmi mengenai kasus kekeringan ekstrem yang masuk dari pos lapangan, pihak Dispertan tetap menaikkan status kewaspadaan ke tingkat tertinggi akibat proyeksi iklim kemarau yang diperkirakan akan berjalan lebih gersang dan panjang dari rata-rata tahunan biasanya.

Berdasarkan peta pemetaan risiko yang dirilis Dispertan, klaster wilayah yang dinilai paling rentan dan rawan mengalami krisis kelangkaan air bertumpu di kawasan Gresik Selatan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi lahan pertanian di Kecamatan Cerme, Menganti, Benjeng, Balongpanggang, dan Kedamean.

Baca Juga :  SPPG Bangkalan Tumbang, Penerima MBG Kini Disuruh Makan Telur 3x Seminggu

Kondisi sebaliknya terjadi di kawasan Gresik Utara, di mana sektor pertanian di zona ini dinilai masih memiliki sumber pasokan air yang relatif aman dan stabil berkat pasokan dari aliran sungai Bengawan Solo serta sokongan jaringan sumur bor dalam yang tersebar di sejumlah titik pertanian.(*)

 

 

Redaksi•

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode