Publikasiterkini.com° SURABAYA— Ketua II PC PMII Surabaya, Abdul Azis, menyoroti absennya PKC PMII Jawa Timur dalam momentum perjuangan Hari Buruh Internasional (May Day) yang berlangsung di berbagai daerah di Jawa Timur.
Menurutnya, momentum May Day seharusnya menjadi ruang keberpihakan organisasi pergerakan terhadap isu kesejahteraan buruh dan masyarakat pekerja, terutama di tengah berbagai persoalan ketenagakerjaan yang masih dihadapi masyarakat hari ini.
Azis menilai, organisasi kader seperti PMII semestinya hadir dalam ruang-ruang advokasi sosial dan membersamai perjuangan masyarakat marginal, bukan justru menjauh dari isu-isu kerakyatan yang menyangkut kepentingan kaum mustadh’afin. Ia menyayangkan sikap sebagian elit gerakan yang dinilai lebih sibuk mendampingi agenda kekuasaan dibanding memperkuat konsolidasi gerakan sosial bersama rakyat.
“May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menegaskan keberpihakan gerakan terhadap kaum buruh dan kelompok masyarakat tertindas. PMII tidak boleh kehilangan sensitivitas sosial dan orientasi perjuangannya,” ujar Abdul Azis.
Ia juga menyinggung keterlibatan Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur dalam agenda misi dagang ke Malaysia bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dinilai tidak memiliki urgensi langsung terhadap kepentingan masyarakat pekerja dan kelompok marginal. Menurutnya, kedekatan organisasi gerakan dengan kekuasaan tidak boleh menghilangkan fungsi kontrol sosial serta keberpihakan terhadap persoalan rakyat kecil.
Lebih lanjut, Abdul Azis menyebut bahwa belakangan ini PKC PMII Jawa Timur dinilai semakin jarang terlihat dalam berbagai agenda gerakan penting yang berkaitan langsung dengan nasib masyarakat. Mulai dari isu kesejahteraan buruh, problem pendidikan, hingga persoalan ketimpangan sosial dan kebijakan publik yang berdampak terhadap masyarakat bawah, dinilai belum mendapatkan respons dan pengawalan serius dari organisasi tingkat provinsi tersebut.
Kondisi itu, menurutnya, menjadi refleksi penting bagi gerakan mahasiswa agar tidak kehilangan orientasi historis sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang berpihak kepada rakyat. Ia menegaskan bahwa PMII harus tetap menjaga tradisi kritis dan keberpihakan terhadap kelompok tertindas, bukan terjebak pada simbolisme politik dan kedekatan dengan kekuasaan semata.
“Gerakan mahasiswa lahir dari keresahan sosial masyarakat. Ketika organisasi mulai absen dalam isu-isu rakyat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya eksistensi gerakan, tetapi juga legitimasi moral organisasi di hadapan masyarakat,” pungkasnya.
SH


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini