Menu

Es Krim Cuncum dan Kenangan Natal: Cerita Masa Kecil di Toko Metro Tunjungan

Mei 6, 2026

Publikasi-terkini° Surabaya _ Toko Metro pernah menjadi salah satu ikon di Jalan Tunjungan 101, Surabaya. Bagi sebagian orang, termasuk Esther Alviah Ekawati, Toko Metro menyimpan cerita masa kecil yang hangat.

Kunjungan ke sana bukan hal yang sering—mungkin hanya setahun sekali, biasanya menjelang Natal. Namun, justru karena jarang itulah, setiap momen terasa begitu istimewa. Salah satu kenangan paling membekas adalah menikmati es krim cuncum yang diambil langsung dari mesin. Sederhana, tapi menghadirkan kebahagiaan yang sulit dilupakan.

Toko Metro sendiri memiliki sejarah panjang. Pada masa kolonial Belanda, tempat ini dikenal dengan nama Toko Piet. Setelah kemerdekaan , namanya berubah menjadi Toko Metro. Di sekitarnya pun berdiri toko-toko legendaris lain.

Di seberang ada Toko Nam yang sangat terkenal, sementara di sampingnya terdapat Toko Kundandas, milik pengusaha keturunan India. Kawasan ini menjadi pusat perdagangan yang ramai dan bergengsi pada zamannya.

Menariknya, dalam buku petunjuk telepon Surabaya tahun 1954, Toko Metro disebut menjual aneka ragam barang yang mencerminkan gaya hidup modern pada masa itu.

Toko ini menawarkan kain-kain halus serta tekstil untuk kebutuhan pakaian anak-anak, wanita, hingga pria. Selain itu tersedia pula barang mode seperti pakaian jadi dan aksesori.

Baca Juga :  Seamless Corridor: Pemeriksaan Imigrasi Jemaah Haji Surabaya Cukup 40 Menit Pakai Iris Mata

Tidak hanya itu. Toko Metro juga menjual perlengkapan rumah tangga, mulai dari alat tulis hingga kebutuhan kantor. Bagi kalangan yang lebih modern, tersedia radio, gramofon, hingga mesin jahit—barang-barang yang pada masa itu tergolong mewah dan menunjukkan perkembangan teknologi rumah tangga.

Aneka makanan dan minuman juga dijual, termasuk produk segar seperti daging dan unggas. Bahkan parfum dan barang perawatan diri ikut melengkapi pilihan belanja di sana.

Dengan kelengkapan tersebut, Toko Metro bukan sekadar toko biasa, melainkan pusat perbelanjaan terpadu pada zamannya—tempat masyarakat Surabaya memenuhi berbagai kebutuhan dalam satu atap.(*)

 

 

Redaksi•

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode