Menu

Lebih Baik Berputih Tulang: Kisah Penolakan Ultimatum Inggris yang Memicu Hari Pahlawan

April 30, 2026

Publikasi-terkini° Surabaya _ Sebelum meletusnya pertempuran bersejarah yang diperingati sebagai Hari Pahlawan pada 10 November 1945, telah terjadi serangkaian peristiwa yang menimbulkan ketegangan antara pihak Inggris dengan pemerintah serta seluruh rakyat Surabaya.

Ketegangan ini bermula dari surat yang dikirimkan oleh Panglima Tentara Inggris, Mayor Jenderal E.C. Manseroy kepada Gubernur Jawa Timur, Raden Achmad Suryo. Dalam surat tersebut, disampaikan tuduhan-tuduhan berat. Dinyatakan bahwa pihak Indonesia menghambat proses pemulangan warga negara asing yang sebelumnya ditahan, bahkan Kota Surabaya dituduh telah dikuasai oleh kelompok perampok.

Tak hanya itu, Mansergh juga menyampaikan ancaman bahwa pihaknya akan menduduki kota ini dengan alasan menertibkan kelompok yang dianggap tidak mematuhi peraturan. Bersamaan dengan itu, Gubernur Suryo dipanggil untuk menghadiri pertemuan yang dijadwalkan pada 9 November 1945 pukul 11.00 WIB. Menurut Nanang Purwono, pemerhati sejarah Surabaya, panggilan dan tuduhan tersebut ditolak secara tegas oleh Gubernur Suryo. Penolakan ini kemudian memicu langkah tegas dari pihak Inggris yang mengeluarkan surat ultimatum kepada seluruh rakyat Surabaya pada hari yang sama. Dalam isi ultimatum tersebut, disebutkan bahwa seluruh pemimpin bangsa Indonesia mulai dari tokoh pergerakan, pemuda, Kepala Kepolisian, hingga petugas penyiaran wajib melapor kepada pihak Inggris paling lambat pukul 18.00 WIB.

Baca Juga :  Detik-detik Evakuasi Piton 4,5 Meter di Dekat Kamar Warga Perumahan Terrace Gresik

Persyaratan yang diajukan pun dinilai sangat memberatkan dan penuh penghinaan. Mereka diwajibkan berbaris satu per satu, membawa seluruh persenjataan yang dimiliki, lalu meletakkannya di tempat yang telah ditentukan berjarak sekitar 75 meter dari titik berkumpul. “Rakyat Surabaya tidak gentar dan menolak ultimatum yang dianggap sebagai bentuk penghinaan tiada tara. Mereka bersemboyan lebih baik berputih tulang daripada berputih mata atau artinya lebih baik gugur sebagai pahlawan daripada hidup dalam kehinaan,” tegas Nanang.

Ia menambahkan, penolakan ini tidak hanya datang dari masyarakat saja, tetapi juga disampaikan secara resmi oleh Gubernur Suryo. Sikap tegas ini kemudian menyatukan seluruh elemen bangsa untuk segera bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Semangat yang membara membuat tidak ada satu pun yang bersedia menyerahkan senjata, dan seluruh rakyat bersiap berjuang habis-habisan demi mempertahankan kemerdekaan dan kota tercinta. “Mereka sepakat, kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan harus dipertahankan dengan sekuat tenaga. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa pertempuran yang berlangsung kemudian menjadi salah satu pertempuran paling bersejarah yang melahirkan ribuan pahlawan bagi bangsa Indonesia,” pungkasnya. (*)

Baca Juga :  Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi: 14 Tewas, 84 Luka-luka

 

Redaksi•

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode