Publikasi-terkini° Jakarta _ Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, menilai kebijakan insentif yang diberikan pemerintah kepada maskapai penerbangan sudah cukup untuk menutup lonjakan harga avtur, bahkan berpotensi menurunkan harga tiket pesawat.
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang Haryo menyusul kenaikan harga avtur hingga 70 persen atau mencapai Rp23.551 per liter. Pemerintah sendiri telah merespons dengan menaikkan fuel surcharge sebesar 38 persen, serta memberikan sejumlah insentif seperti pemangkasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tiket pesawat dan penghapusan bea masuk suku cadang.
“Bahan bakar itu mengambil sekitar 40 persen dari total biaya maskapai. Dengan kenaikan 38 persen, berarti ada tambahan sekitar 13 persen dari total cost,” ujar Bambang Haryo, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, pemangkasan PPN tiket sebesar 11 persen memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan maskapai. Sementara itu, penghapusan bea masuk suku cadang yang berada di kisaran 10 persen dari komponen biaya, hanya berkontribusi sekitar 1 persen terhadap total biaya operasional.
“Kalau dihitung, total insentif bisa mencapai 12 persen. Artinya, ruang kenaikan harga tiket menjadi sangat kecil, bahkan bisa hanya sekitar 1 persen,” jelasnya.
Menurutnya, jika pemerintah juga menurunkan airport tax hingga 50 persen, maka tambahan penghematan bisa mencapai sekitar 5 persen dari total pendapatan maskapai. Dengan demikian, seluruh insentif tersebut dinilai mampu menutup dampak kenaikan biaya avtur.
“Dengan komponen insentif itu, sebenarnya kerugian maskapai sudah tertutup. Bahkan tidak perlu ada kenaikan harga tiket,” tegasnya.
Bambang Haryo juga menyoroti perlunya peningkatan efisiensi operasional penerbangan, khususnya dalam pengaturan lalu lintas udara. Ia menyebut proses antrean pesawat saat akan mendarat (holding) kerap menyebabkan pemborosan bahan bakar hingga 10 persen dari total perjalanan.
“Kita harapkan pengaturan air traffic control dan AirNav bisa lebih optimal agar tidak terjadi delay yang menyedot bahan bakar,” katanya.
Selain itu, ia menilai praktik pesawat narrow-body yang harus menuju ujung landasan sebelum lepas landas perlu dievaluasi. Menurutnya, pesawat jenis tersebut dapat melakukan take-off dari tengah landasan melalui taxiway yang tersedia.
“Ini bisa menghemat waktu sekaligus bahan bakar,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan pemanfaatan runway di Bandara Soekarno-Hatta yang dinilai belum maksimal. Dari tiga landasan yang ada, disebutkan masih terdapat satu runway yang belum digunakan secara optimal.
“Kalau dimaksimalkan, proses take-off dan landing akan lebih cepat dan efisien,” tambahnya.
Dengan perhitungan tersebut, Bambang Haryo menegaskan bahwa total insentif pemerintah bahkan melebihi dampak kenaikan biaya avtur.
“Kalau insentif sudah lebih dari 15 persen, sementara kenaikan biaya hanya sekitar 13 persen, maka seharusnya harga tiket bisa turun sekitar 2 persen,” pungkasnya.(*)
Red•


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini