Menu

Tragedi Pembiaran: Gedung SD Rongtengah 5 Ambruk, Bukti Nyata Rapuhnya Sistem Pengawasan Pendidikan di Sampang

Maret 31, 2026

Publikasiterkini° Sampang _ Infrastruktur pendidikan di Kabupaten Sampang kembali menjadi sorotan tajam. Pada Senin pagi (30/3/2026), bangunan SD Negeri Rongtengah 5 yang berlokasi di Jalan Merapi, ambruk secara total. Peristiwa ini bukan sekadar bencana fisik akibat cuaca atau usia bangunan, melainkan akumulasi dari kelalaian dan buruknya manajemen perawatan infrastruktur oleh instansi terkait.

​Keruntuhan ini terjadi setelah bangunan tersebut dibiarkan dalam kondisi retak dan lapuk selama bertahun-tahun. Meski tidak ada korban jiwa, nihilnya korban bukanlah hasil dari mitigasi sistem pertahanan infrastruktur pemerintah, melainkan inisiatif darurat pihak sekolah.

Demi menghindari jatuhnya korban, pihak sekolah telah lebih dulu melarang siswa beraktivitas di ruang kelas yang kritis tersebut. Akibatnya, siswa kelas 6 kini terpaksa melakukan proses belajar mengajar di ruangan sempit yang disekat seadanya.

​Kepala Sekolah SD Rongtengah 5, Ibu Surati, membenarkan kondisi memprihatinkan ini.

“Yang penting anak-anak tetap belajar, meskipun kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kualitas dan kenyamanan pendidikan telah dikorbankan demi keselamatan dasar yang seharusnya dijamin oleh pemerintah.

Runtuhnya bangunan ini sejatinya dapat dicegah. Surati secara tegas mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah melayangkan laporan berkali-kali kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang terkait kondisi bangunan yang semakin membahayakan.

Baca Juga :  Polres Pasuruan Kota Berhasil Gagalkan Penyelundupan Hewan Ternak Hasil Kejahatan

​“Kami tidak baru sekali melapor. Sudah berkali-kali. Tapi hasilnya nihil,” ungkapnya.

Absennya tindak lanjut atas laporan resmi ini menunjukkan disfungsi pengawasan dan lambannya birokrasi dalam merespons situasi darurat.

Hingga saat ini, puing-puing reruntuhan masih dibiarkan menggunung di lokasi. Tidak ada garis pengaman atau langkah taktis dari instansi terkait untuk membersihkan area tersebut.

Di tengah cuaca ekstrem yang melanda sejak Agustus 2025, material sisa bangunan sangat rentan memicu kecelakaan susulan bagi siswa dan staf sekolah yang masih beraktivitas di sekitarnya.

Insiden di SD Rongtengah 5 mengungkap fenomena gunung es pengelolaan sekolah di Sampang. Beberapa bulan sebelumnya, krisis serupa teridentifikasi di SDN Margantoko 1. Seluruh bangunan di sekolah tersebut dilaporkan tidak layak pakai dengan kondisi dinding retak dan atap rapuh.

Hal ini mengindikasikan bahwa kerusakan fasilitas pendidikan harus mencapai titik kehancuran total sebelum dianggap masuk dalam prioritas penanganan.

Dalih birokrasi seperti “Menunggu giliran perbaikan” kini tidak lagi relevan ketika nyawa ratusan siswa yang menjadi taruhannya. Menyalahkan faktor cuaca juga dinilai sebagai bentuk simplifikasi masalah dan penghindaran tanggung jawab. Bangunan sekolah yang dirawat dan diawasi sesuai standar tidak akan runtuh secara tiba-tiba tanpa memberikan jeda mitigasi.

Baca Juga :  Gerak Cepat, Jajaran Polres Sampang Bongkar Kasus Curanmor di Banyuates

​Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang belum memberikan keterangan resmi maupun langkah konkret terkait insiden ini. Upaya konfirmasi terus dilakukan, namun kebisuan otoritas sejauh ini justru mempertegas minimnya ‘sense of crisis’ terhadap keselamatan dunia pendidikan di Kabupaten Sampang.

Peristiwa ini harus menjadi peringatan terakhir; jaminan keselamatan siswa membutuhkan eksekusi nyata di lapangan, bukan sekadar deretan angka dalam draf anggaran.

 

(Basri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode