Menu

Jatim Catat Kasus Terbanyak Super Flu, Komisi E DPRD Tekankan Mitigasi Tanpa Kepanikan

Januari 4, 2026

Publikasiterkini.com° Surabaya — Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim), Puguh Wiji Pamungkas, mengingatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul merebaknya kasus influenza varian H3N2 subklinik K atau yang dikenal sebagai super flu di Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus terbanyak secara nasional.

Puguh menilai kondisi tersebut harus menjadi alarm awal bagi Pemprov Jatim, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sebagai leading sector, untuk segera melakukan langkah-langkah mitigatif yang serius dan terukur. Upaya tersebut, kata dia, perlu dilakukan secara kolaboratif dengan seluruh Dinas Kesehatan kabupaten atau kota hingga memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur kesehatan yang ada.

“Ini harus menjadi kewaspadaan bersama. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur perlu bergerak cepat dengan menggandeng Dinkes kabupaten atau kota, memanfaatkan seluruh fasilitas kesehatan mulai dari RSUD milik Pemprov, rumah sakit kabupaten atau kota, Puskesmas hingga Puskesmas Pembantu untuk melakukan langkah mitigatif yang serius,” ujar Puguh, Minggu (4/1).

Menurutnya, karakter virus berbeda dengan penyakit lain, sehingga upaya pencegahan paling sederhana namun efektif adalah penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta peningkatan imunitas tubuh masyarakat. Dengan imunitas yang baik, risiko masyarakat terserang virus dapat ditekan.

Baca Juga :  Bambang Haryo Beri Tenggat Satu Pekan Stabilkan Harga Minyak Kita di Sidoarjo

Politisi PKS ini juga menyoroti data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan kelompok perempuan serta anak-anak usia 1 – 10 tahun menjadi klaster tertinggi kasus super flu ini. Kondisi tersebut, lanjut Puguh, menuntut adanya edukasi yang lebih intensif kepada masyarakat melalui jaringan layanan kesehatan pemerintah.

“Ini menjadi potret penting bahwa edukasi kepada masyarakat harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Membangun public awareness terkait pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, pola makan bergizi, serta konsumsi vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh menjadi sangat krusial,” tegasnya.

Lebih lanjut, Puguh menekankan pentingnya peran sekolah sebagai salah satu titik krusial pencegahan. Mengingat klaster anak usia sekolah cukup tinggi, institusi pendidikan diminta mulai menerapkan dan memperkuat budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah.

“Di sekolah-sekolah, guru, kepala sekolah, dan institusi pendidikan harus memiliki pemahaman yang sama. Apalagi saat ini ada program makan bergizi gratis. Aspek higienitas saat mengonsumsi makanan, setelah makan, dan dalam aktivitas belajar sehari-hari harus benar-benar diperhatikan agar potensi penularan bisa ditekan semaksimal mungkin,” jelasnya.

Meski demikian, Puguh mengingatkan agar langkah mitigatif tersebut dilakukan tanpa menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Ia menilai, meskipun virus super flu sudah ada dan menyebar, hingga kini belum ditetapkan sebagai pandemi oleh pemerintah pusat.

Baca Juga :  BHS dan BRI Salurkan CSR untuk Fasilitas Latihan Jujitsu di Sidoarjo

“Tidak perlu membuat masyarakat panik. Yang terpenting adalah langkah mitigatif dan preventif yang serius, sistematis, dan berkelanjutan. Belajar dari pengalaman Covid-19, isu virus sangat sensitif dan bisa memicu ketakutan berlebihan,” katanya.

 

SOFI H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode