Publikasiterkini.com° Surabaya – Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS) menyatakan keberatan atas langkah sepihak manajemen Mie Gacoan yang menggandeng vendor luar untuk menerapkan sistem parkir digital berpalang di sejumlah gerainya pada Rabu (31/12/2025).
PJS menilai kebijakan tersebut melanggar nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) yang selama ini mengikat kerja sama pengelolaan lahan parkir di seluruh gerai Mie Gacoan se-Surabaya.
Wakil Ketua PJS, Feri Fadli, menegaskan bahwa polemik ini bukan disebabkan penolakan juru parkir terhadap modernisasi sistem parkir. Menurutnya, para jukir justru merasa dikhianati karena manajemen Mie Gacoan menunjuk vendor lain, padahal PJS sejak awal tahun 2025 telah menyatakan kesiapan untuk mengelola parkir secara profesional dengan sistem digital dan berpalang.
“Kita sejak awal tahun 2025 sudah mengajukan ke pihak manajemen. Kalau kita juga siap mengelola secara profesional, baik menggunakan sistem digital maupun berpalang,” ujar Feri.
Selain persoalan MOU, Feri menuding kebijakan tersebut bertentangan dengan imbauan Wali Kota Surabaya yang mendorong pelaku usaha untuk melibatkan warga lokal dalam kegiatan usahanya. Ia juga menyayangkan narasi di media sosial yang belakangan ini menyudutkan juru parkir seolah-olah sebagai jukir liar.
“Sekarang isu yang beredar di media sosial seakan-akan kita jukir liar. Padahal kami punya bukti MOU yang sah. Kami hanya berupaya mempertahankan hak-hak kami,” tegasnya.
PJS mengaku telah berupaya menyelesaikan persoalan ini melalui jalur perundingan. Namun, manajemen Mie Gacoan dinilai tidak kooperatif. Bahkan, Feri menyebut pihak manajemen mangkir hingga tiga kali dari undangan mediasi yang difasilitasi DPRD Kota Surabaya.
“Sudah dimediasi bersama DPRD. Tapi tiga kali diundang, pihak manajemen Mie Gacoan tidak datang,” ungkapnya.
Atas sikap tersebut, PJS berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dapat turun tangan sebagai penengah yang adil. Feri menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak perkembangan teknologi, namun merasa diperlakukan tidak adil setelah sekian lama menjalin kerja sama.
“Kami bukan menolak kekinian. Tapi kami ini seolah diperlakukan oleh manajemen seperti ‘habis manis sepah dibuang’,” pungkasnya. (bj)
(Redaksi)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini