Menu

Pakar UM Surabaya Sentil Netizen Indonesia Gegara Rasis ke Guinea

Oktober 21, 2025

Publikasiterkini.com // Surabaya –Kebiasaan negatif netizen Indonesia mendapat respon Pakar Kajian Media dan Budaya UM Surabaya Radius Setiyawan. Hal ini menyusul kekalahan Timnas Indonesia U-23 atas Timnas Guinea U-23 pada babak playoff, Kamis (9/5/2024) kemarin.

Kegagalan Indonesia melaju ke Olimpiade Paris 2024 tak diterima oleh sebagian fans. Bahkan, sebagian netizen Indonesia juga menumpahkan kekesalannya dengan menyerang akun media sosial Guinea dan sejumlah pemainnya dengan rasisme.

Salah satu pemain yang mendapatkan rasisme itu adalah Ilaix Moriba, sang pencetak gol tunggal ke gawang Indonesia. Banyak netizen Indonesia menyematkan emoji atau meme bergambar monyet dalam komentarnya.

Menyikapi itu, Radius mengatakan bahwa rasisme yang menimpa Guinea tak selayaknya dianggap sebagai hal wajar dan dapat dimaklumi. Radius menilai jika hal semacam ini merupakan kondisi yang memprihatinkan.

“Sikap rasis yang dilakukan warganet bisa jadi sudah mendarah daging dan berada di alam bawah sadar. Ungkapan ketidaksukaan terhadap yang berbeda dengan mudah diekpresikan dengan melabeli orang tersebut dengan identitas suku atau ras tertentu yang dianggap rendah,” kata Radius, Sabtu (11/5/2024).

Baca Juga :  Kritis dan Kreatif, Siswa SMP Surabaya Tunjukkan Riset Unggulan di LPPS 2026

Ia menyampaikan bahwa pembentukan informasi dalam diri manusia yang penuh dengan labeling atau stereotype, tentunya sesuatu hal yang bermasalah.

Dalam konteks Indonesia, hal itu terbentuk tentunya terkait dengan berbagai faktor. Dari persoalan sejarah politik, relasi masa lalu yang tidak setara hingga jejak-jejak kolonialisme.

“Stereotype atas Guinea menjadi contoh bagaimana sikap rasis seringkali mengemuka di ruang publik kita. Stereotype tersebut sudah terbentuk lama sehingga cenderung membuat seseorang tidak melakukan proses berpikir panjang, hati-hati, atau sistematis ketika mengeluarkan perilaku rasis,” bebernya.

Radius menambahkan, bekal pengetahuan atau wawasan yang diperoleh sedari kecil menjadi jalan pintas individu dalam memberikan label atau stereotype pada orang yang berbeda. Dalam sejarah Indonesia, sikap rasis tentunya memiliki akar sejarah.

“Sejarah dan peninggalan kolonialisme negara menjadi pemicu atas situasi tersebut, sehingga anggapan terhadap masyarakat kulit hitam ditempatkan masih sebagai makhluk yang belum dewasa, terbelakang, bodoh dan layak untuk dijadikan hinaan atau lelucon. Khas cara berpikir kolonial,” tandasnya.

 

 

SOFI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode