Publikasiterkini.com // Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dipastikan kehilangan alokasi dana transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp 730 miliar pada 2026 mendatang.
Pemotongan tersebut dilakukan oleh Kementerian Keuangan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penyimpangan dalam penyaluran dana transfer ke daerah di seluruh Indonesia.
Meski kehilangan anggaran dalam jumlah besar, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan Pemkot Surabaya tidak menyerah. Inovasi dan efisiensi menjadi kunci utama untuk menutup kekurangan tersebut tanpa mengorbankan pembangunan maupun pelayanan publik.
“Angka Rp 730 miliar itu sudah final ditetapkan pemerintah pusat. Namun, kami tidak akan berhenti bergerak. Surabaya akan tetap tumbuh lewat inovasi dan efisiensi,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi kepada wartawan, Jumat (17/10/2025).
Untuk menutup defisit anggaran, Pemkot Surabaya menyiapkan skema pembiayaan jangka panjang dengan menghitung ulang proyek pembangunan hingga 2029.
Eri Cahyadi menjelaskan, proyek-proyek yang sebelumnya dijadwalkan selesai secara bertahap hingga 2029 akan dipercepat pelaksanaannya pada 2026, sehingga anggaran bisa digunakan lebih efisien.
Langkah ini diperkirakan mampu menghemat hingga Rp 50 miliar, sekaligus mendorong kenaikan nilai jual objek pajak (NJOP) di beberapa wilayah Surabaya seperti Wiyung, Gunung Sari, dan Banyu Urip.
“Dengan percepatan pembangunan, NJOP bisa naik hingga Rp 500 miliar pada 2028. Ini akan menjadi tambahan pemasukan daerah,” jelasnya.
Selain efisiensi proyek infrastruktur, Pemkot Surabaya juga berencana mengoptimalkan aset daerah untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD).
Sebagian aset akan dimanfaatkan untuk program padat karya, sementara lainnya disewakan guna menghasilkan pemasukan baru bagi kas daerah.
Pemkot juga memperkuat sektor pengelolaan sampah menjadi energi listrik, seperti yang dilakukan di tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo, di mana sebagian listrik hasil produksi bahkan dijual ke PLN.
“Rp 730 miliar bukan jumlah kecil, jadi setiap potensi pendapatan harus dimaksimalkan. Dari aset, sampah, hingga efisiensi proyek,” tegasnya.
Meski alokasi TKD menyusut drastis, Pemkot Surabaya memastikan program sosial dan pendidikan tidak akan terganggu, termasuk Program Beasiswa Pemuda Tangguh.
Program ini menyasar keluarga miskin dan pra-miskin, dengan prinsip satu rumah satu anak kuliah hingga lulus.
“Potongan anggaran tidak akan menghentikan langkah kami untuk memberdayakan warga Surabaya. Kami akan terus bergerak dengan kreativitas dan semangat,” tutupnya.
Sumber : Beritasatu
SOFI


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini