Menu

Gus Yahya Tolak Mundur dari Ketua Umum PBNU: “Amanat Muktamar Masih 5 Tahun”

November 23, 2025

Publikasiterkini.com // Surabaya – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat mundur dari jabatannya sebelum masa khidmat 5 tahun yang diamanatkan Muktamar ke-34 NU pada Desember 2021 berakhir.

Pernyataan tegas itu disampaikan Gus Yahya menanggapi risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp. Dalam risalah tersebut disebutkan bahwa Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar memberikan tenggat tiga hari kepada Gus Yahya untuk mengundurkan diri, dengan ancaman pemberhentian sepihak jika tidak dipenuhi.

“Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur, karena saya mendapatkan amanat dari muktamar itu 5 tahun, Muktamar ke-34 yang lalu. Akan saya jalani selama 5 tahun,” tegas Gus Yahya saat ditemui di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (23/11/2025).

Gus Yahya juga membantah keabsahan risalah yang beredar tersebut. Menurutnya, dokumen itu tidak memenuhi standar prosedur resmi PBNU karena tidak dilengkapi tanda tangan digital para anggota Syuriyah.

“Risalah yang beredar itu belum sah karena tanpa tanda tangan digital. Hingga saat ini saya belum menerima surat fisik resmi dari Syuriyah PBNU yang berisi permintaan pengunduran diri,” ujarnya.

Baca Juga :  Hari Sumpah Pemuda ke-98, Polda Jatim Ajak Generasi Muda Hidupkan Semangat Patriotik, Gigih dan Berempati

Ia menambahkan bahwa hingga detik ini belum ada surat resmi apapun dari Syuriyah PBNU yang sampai ke tangannya terkait permintaan mundur tersebut.

Konflik internal PBNU ini mencuat setelah munculnya risalah bertanggal beberapa hari lalu yang ramai diperbincangkan warganet. Sejumlah kalangan menilai adanya ketegangan antara Gus Yahya dengan sebagian pengurus Syuriyah, meskipun PBNU sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terbaru terkait status kepemimpinan periode 2021-2026.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di internal organisasi terbesar Islam di Indonesia itu masih terus dipantau publik Nahdliyin.

(Basri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode