Publikasiterkini.com ° Bangkalan _ Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menutup gelaran Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) Tahun 2026. Agenda akbar kaum nahdliyin ini dipusatkan di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Cholil Bangkalan, Jawa Timur, pada Selasa (23/6/2026).
Menggunakan helikopter, rombongan Kepala Negara mendarat di Alun-Alun Bangkalan sekitar pukul 11.00 WIB. Kedatangan Presiden Prabowo langsung disambut hangat oleh Bupati Bangkalan Lukman Hakim, jajaran Forkopimda, Pangdam V/Brawijaya, Danrem 084/Bhaskara Jaya, serta ribuan masyarakat Bangkalan yang antusias memadati area sekitar.
Sejumlah menteri kunci Kabinet Merah Putih turut mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja ini. Di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Puji Nasionalisme NU
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo memberikan apresiasi mendalam terhadap peran historis dan kontekstual Nahdlatul Ulama dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, NU bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan pilar kokoh persatuan bangsa.
”NU adalah organisasi besar yang selalu berada di garis depan menjaga bangsa dan negara. Para kiai dan ulama selalu hadir di tengah rakyat,” ujar Prabowo di hadapan ratusan kiai dan utusan PWNU se-Indonesia.
Presiden menegaskan bahwa nilai-nilai nasionalisme yang diajarkan oleh para masyayikh dan ulama NU merupakan kompas penting dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan zaman.
Soroti Kebocoran Anggaran dan Efisiensi BUMN
Di balik apresiasinya terhadap NU, Presiden Prabowo juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan pidato kebangsaan yang lugas dan berani. Ia menyoroti persoalan klasik yang masih menjadi ganjalan besar bagi kemakmuran Indonesia: kebocoran kekayaan negara.
”Saya tidak ingin menutupi kenyataan. Kekayaan negara kita masih banyak yang bocor. Kalau kebocoran ini bisa kita hentikan, kesejahteraan rakyat, guru, petani, nelayan, dan aparatur negara akan jauh lebih baik,” tegas Presiden dengan nada optimistis sekaligus penuh peringatan.
Sebagai solusi konkret, Presiden memaparkan bahwa pemerintah saat ini tengah melancarkan aksi bersih-bersih dan pembenahan total tata kelola negara. Fokus utamanya adalah efisiensi anggaran dan reformasi birokrasi, termasuk mengevaluasi keberadaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai membebani keuangan negara.
”Kita akan terus melakukan efisiensi. BUMN yang tidak memberikan manfaat harus diperbaiki, ditata, bahkan dikurangi jika memang tidak diperlukan,” cetusnya.
Menutup arahannya, mantan Danjen Kopassus ini menegaskan komitmen penuh Kabinet Merah Putih untuk mengembalikan hak-hak ekonomi kepada masyarakat bawah.
”Kekayaan bangsa ini harus kembali kepada rakyat. Setiap rupiah uang negara harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat,” pungkas Prabowo yang disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Dengan ditutupnya Munas dan Konbes NU 2026 ini, komitmen sinergi antara ulama dan umara (pemerintah) diharapkan semakin solid, khususnya dalam mengawal kebijakan-kebijakan humanistis yang berpihak pada kesejahteraan wong cilik.
(Basri)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini