Menu

DPRD Surabaya Soroti Dampak Pelemahan Rupiah ke Harga Pokok, Dorong UMKM Jadi Solusi

Mei 21, 2026

Publikasiterkini.com° Surabaya _ Nilai tukar rupiah yang melemah mulai berdampak pada kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok. Hal ini mendapat sorotan DPRD Surabaya. Warga diminta mulai menekan pengeluaran tidak penting dan lebih bijak mengatur keuangan keluarga di tengah ancaman naiknya harga bahan pangan menjelang Idul Adha.

Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono, mengatakan situasi ekonomi global saat ini sudah mulai terasa hingga level rumah tangga. Karena itu, masyarakat perlu mengantisipasi sejak dini agar tidak terjebak pola hidup konsumtif saat kondisi ekonomi sedang tidak stabil.

“Kalau biasanya sering belanja ke mal atau membeli hal-hal yang tidak terlalu penting, sekarang harus mulai direm. Prioritaskan kebutuhan utama dulu,” ujarnya.

Politisi yang akrab disapa Buleks itu menilai langkah paling realistis yang bisa dilakukan masyarakat adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Menurutnya, kemampuan mengatur pengeluaran akan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi keluarga di tengah tekanan harga pangan dan pelemahan rupiah.

“Kalau memang tidak perlu ya tidak usah dibeli. Sekarang waktunya hidup lebih efisien dan menyesuaikan kondisi,” katanya.

Ia juga menyoroti potensi kenaikan harga bahan pokok menjelang Hari Raya Iduladha, terutama komoditas dapur seperti cabai dan minyak goreng yang dinilai paling cepat terdampak gejolak ekonomi global.

Baca Juga :  Antisipasi El Nino 2026, Polri Perkuat Mitigasi Karhutla melalui Dialog Publik Lintas Sektor

“Cabai itu indikator paling terasa di masyarakat. Kalau harga cabai naik, biasanya harga makanan lain ikut terdampak. Jadi masyarakat juga harus mulai mengatur pola belanjanya,” jelasnya.

Selain penghematan, Buleks mendorong warga mulai mencari sumber pemasukan tambahan melalui usaha kecil atau sektor UMKM agar kondisi ekonomi keluarga tetap aman.

Menurutnya, masyarakat jangan sampai bergantung pada utang konsumtif hanya untuk mempertahankan gaya hidup.“Kalau bisa justru mulai cari usaha sampingan atau investasi kecil. Jangan sampai kondisi ekonomi ini membuat masyarakat makin terbebani utang,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat mengurangi pengeluaran operasional yang tidak mendesak, termasuk penggunaan kendaraan pribadi secara berlebihan.“Kalau memang dekat ya bisa pakai sepeda atau kendaraan seperlunya. Intinya kita harus mulai mengontrol pengeluaran dari diri sendiri,” ujarnya.(*)

 

 

Redaksi•

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode