Menu

Ketua II PC PMII Surabaya Soroti 100 Hari Kepemimpinan PKC PMII Jatim: Minim Gerakan dan Aspirasi Cabang

Mei 16, 2026

Publikasiterkini° Surabaya _ Ketua II PC PMII Surabaya, Abdul Azis, menilai 100 hari kepemimpinan PKC PMII Jawa Timur menunjukkan kegagalan dalam membangun arah gerakan organisasi yang berpihak pada kader dan masyarakat. Kritik tersebut disampaikan menyusul minimnya keterlibatan cabang PMII di daerah dalam proses konsolidasi organisasi serta absennya PKC dalam berbagai isu sosial yang menyangkut kepentingan rakyat.

Menurut Abdul Azis, kepemimpinan PKC PMII Jawa Timur saat ini terlalu berorientasi pada agenda seremonial, simbolisme organisasi, dan kedekatan dengan kekuasaan, namun lemah dalam penguatan gerakan kader maupun advokasi terhadap persoalan sosial masyarakat Jawa Timur.

“Seratus hari adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan arah kepemimpinan organisasi. Tetapi yang terlihat justru dominasi pencitraan dan agenda formal, sementara isu-isu rakyat dan aspirasi cabang semakin jauh dari perhatian,” tegas Abdul Azis.

Ia menyoroti bahwa banyak cabang PMII di daerah merasa tidak mendapatkan ruang dialog yang sehat dalam menentukan arah gerakan organisasi. Menurutnya, PKC seharusnya menjadi ruang konsolidasi kolektif dan penguatan perjuangan kader di Jawa Timur, bukan berjalan secara elitis dan terpusat pada kepentingan tertentu.

Baca Juga :  Bambang Haryo Dorong Sekolah Kunjungi Kampung Lali Gadget

Selain itu, Abdul Azis juga mengkritik absennya PKC PMII Jawa Timur dalam beberapa momentum penting perjuangan masyarakat, termasuk isu kesejahteraan buruh dalam agenda May Day. Di saat banyak elemen masyarakat sipil turun mengawal kepentingan pekerja dan kaum mustadh’afin, elit organisasi justru dinilai lebih sibuk berada di sekitar agenda kekuasaan, termasuk mendampingi kegiatan misi dagang ke luar negeri yang dianggap tidak memiliki urgensi langsung terhadap persoalan rakyat kecil.

“Ini menjadi ironi gerakan. Ketika rakyat membutuhkan keberpihakan dan pengawalan isu sosial, organisasi justru lebih nyaman berada di lingkar seremoni kekuasaan. PMII tidak boleh kehilangan watak kritis dan keberpihakannya kepada masyarakat,” lanjutnya.

Menurut Abdul Azis, kondisi tersebut menjadi refleksi serius bagi masa depan gerakan PMII di Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa organisasi kader harus kembali pada marwah perjuangannya sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang hadir membersamai masyarakat, bukan sekadar menjadi pelengkap agenda simbolik dan politik kekuasaan.

“Kalau organisasi hanya ramai di seremoni tetapi absen di penderitaan rakyat, maka yang hilang bukan sekadar arah gerakan, tetapi juga legitimasi moral PMII di hadapan kader dan masyarakat,” pungkasnya.

Baca Juga :  Polsek Geneng Gelar Binluh Anti-Bullying dan Narkoba di SMPN 1 Geneng

 

 

(Abd. Aziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode