Publikasiterkini.com° Semarang – Sebuah kecelakaan tragis menimpa bus PO Cahaya Trans di ruas simpang susun Exit Tol Krapyak, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Senin (22/12/2025) dini hari sekitar pukul 00.30–00.45 WIB. Bus yang melayani rute Bogor–Yogyakarta (berangkat dari Jatiasih, Bekasi) ini mengalami kecelakaan tunggal setelah diduga melaju kencang dan hilang kendali di tikungan tajam, menabrak pembatas jalan hingga terguling.
Akibat insiden ini, 16 orang meninggal dunia dan 18 orang lainnya mengalami luka-luka dengan kondisi beragam. Awalnya, 15 korban tewas ditemukan di lokasi kejadian, sementara satu korban lagi meninggal di rumah sakit. Proses evakuasi oleh tim SAR gabungan (Basarnas, Polri, Jasa Marga, PMI, dan instansi terkait) berlangsung dramatis hingga pukul 04.00 WIB karena kondisi bus rusak parah dan banyak korban terjepit serta pecahan kaca berserakan.
Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono, menyatakan bahwa bus bernomor polisi B 7201 IV membawa sekitar 34 penumpang. Korban luka-luka dirawat di berbagai rumah sakit seperti RSUP dr Kariadi, RSUD Tugurejo (Tugu), RS Columbia Asia, dan RS Elisabeth Semarang. Seluruh korban tewas telah diidentifikasi oleh Tim DVI Biddokkes Polda Jawa Tengah di RSUP dr Kariadi.
Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, mengonfirmasi bahwa sopir bus selamat dan saat ini diamankan di Mapolrestabes Semarang untuk pemeriksaan lebih lanjut, termasuk tes urine. Sopir tersebut merupakan sopir cadangan yang baru dua kali menjalani rute tersebut, sementara kernet bus, Robi Sugianto (51), mengaku tidak tahu pasti penyebab kecelakaan selain bus tiba-tiba miring dan menabrak pembatas.
Penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti, dengan dugaan utama meliputi kecepatan tinggi, kurangnya konsentrasi pengemudi, dan ketidakpahaman medan jalan di tikungan menurun.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan bus tersebut tidak laik jalan berdasarkan hasil ramp check pada 9 Desember 2025, di mana dinyatakan tidak memenuhi standar keselamatan dan dilarang beroperasi.
Kendaraan juga tidak terdaftar sebagai angkutan AKAP atau pariwisata dalam aplikasi MitraDarat, dengan uji berkala terakhir pada 3 Juli 2025. Kemenhub menekankan pentingnya operator memastikan kelaikan kendaraan sebelum beroperasi dan mengevaluasi menyeluruh keselamatan transportasi darat.
Berikut identitas korban tewas berdasarkan data kepolisian:
- Sadimin, 57, warga Bantengan, Melikian, Wedi, Klaten
- Srihono, 53, warga Gatak, Pidingan, Juwiring, Klaten
- Listiana, 44, warga Dosaran, Kalikebo, Trucuk, Klaten
- Sugimo, 62, warga Gotakan, Banyudono, Boyolali
- Haryadin, 43, warga Jalan Raya Condet, Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur
- Mutiara Citra Dwi Purwita, 19, warga Kebur Lor, Argomulyo, Cangkringan, Sleman
- Saguh, 62, warga Kampung Jati Parung, Parung, Bogor
- Wahyu Eko Utomo, 26, warga Sikepan, Ngagrong, Gladagsari, Boyolali
- Ngatiyem, 48, warga Metuk, Mojosongo, Boyolali
- Erna Peny Hartari, 53, warga Kampung Bojong Tengah, Bantarsari, Ranca Bungur, Bogor
- Yanto, 47, warga Dosaran, Kalikebo, Trucuk, Klaten
- Anis Munandar, 36, warga Gotakan, Banyudono, Boyolali
- Noviani, 31, warga Kampung Bojong Hilir, Bojong, Kemang, Bogor
- Anih, 56, warga Kampung Lebakwangi, Parung, Bogor
- Dwi Rahayu, 47, warga Cluster Lestari Ciputat, Cipayung, Tangerang Selatan
- Endah, 48, warga Kebur Lor, Argomulyo, Cangkringan, Sleman (meninggal di RS)
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi operator transportasi untuk memprioritaskan keselamatan penumpang. Pihak berwenang berjanji melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
(Red)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini