Menu

Nyawa Melayang Hanya Karena Sandal, Polisi Dalami Pengeroyokan di Surabaya

Juni 5, 2026

Publikasiterkini.com° Surabaya _ TJK alias Thomas pemuda asal Jalan Manukan Kulon, Surabaya, ini diduga dikeroyok oleh pelaku gara-gara persoalan ganti rugi sandal. Namun, motif utama kasus dugaan pengeroyokan tersebut masih terus didalami pihak kepolisian. Sebab, empat pelaku pengeroyokan saat ini masih menjalani pemeriksaan di Mapolrestabes Surabaya.

Kakak kandung korban, Hana Novia Kristiani, 32, mengatakan untuk motif kalau dugaan utang piutang tidak ada. Hana lalu menceritakan kemungkinan penyebab pengeroyokan itu diawali dari pertengahan Mei 2026 saat adiknya terlibat permasalahan dengan temannya yang diduga kuat sebagai salah satu terduga pelaku pengeroyokan.

Awalnya sandal merek Crocs milik terduga pelaku berada di rumah temannya. Kemudian oleh korban sandal tersebut dipakai entah karena tidak membawa alas kaki atau sepatunya basah.

Belakangan teman korban mengetahui sandalnya dibawa korban. Lalu si terduga pelaku pengeroyokan menanyakan terkait keberadaan sandal ke korban. Oleh korban dijawab sandal berada di jok motor kakak temannya. Usai dicari, ternyata sandal hilang.

Ketika sandalnya hilang si terduga pelaku meminta ganti sandal baru. “Lalu adik saya minta info ke saya bahwa si tersangka meminta ganti rugi. Saya sudah kasih uang ke adik saya terkait ganti rugi tersebut dan juga adik saya sudah mengembalikan dengan sandal yang baru. Tersangka awalnya juga WA saya, saya punya bukti WA tersebut menyatakan bahwa tersangka menerima sandal baru. Jadi saya menganggap tidak ada utang piutang,” jelasnya, Jumat (5/6).

Baca Juga :  Polwan Jaga Jakarta Salurkan Bantuan dan Trauma Healing untuk Korban Kebakaran Pasar Jiung

Ia melanjutkan menurut tersangka harga sandal ganti rugi tidak sesaui karena menurut tersangka sandalnya harga Rp 1,5 juta sedangkan yang diganti korban Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu.

Menurut Hana, dia juga tidak tahu motif pengeroyokan itu apa. Apabila memang motifnya karena terkait permasalahan sandal yang dikembalikan tidak sesuai harga sandal aslinya, Hana menganggap bahwa dirinya tidak tahu menahu pastinya harga sandal sesungguhnya itu berapa.

“Apakah betul Rp 1,5 juta bahkan model sandalnya saya tidak tahu. Bagaimana caranya saya percaya bahwa harga sandal tersebut Rp 1,5 juta dan saya tidak bisa serta merta mengembalikan sandal Rp 1,5 juta jika tidak ada bukti dari pembelanjaan,” terangnya.

Menurut dia, waktu itu adiknya sudah beritikad baik dengan mengganti membelikan sandal baru. Akan tetapi pihak terduga pelaku tidak sesuai kemauannya karena merasa harga tidak sesuai dengan harga sandal baru.

“Cuma disayangkan anaknya emosi bahkan berujung melakukan tindakan  anarki yang mana menghilangkan nyawa seseorang hanya motif ganti rugi sebuah sandal,” tegasnya.(*)

 

 

Redaksi•

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode