Publikasi-terkini° Surabaya _ Dugaan bunuh diri seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS (10), yang disebut-sebut tidak mampu membeli alat tulis, memantik keprihatinan publik. Tragedi kemanusiaan tersebut menggerakkan aksi solidaritas warga di Kota Surabaya.
Seorang warga Surabaya bernama Kusnan menggelar aksi tunggal di depan Gedung Negara Grahadi, Selasa (10/2/2026). Dalam aksinya, Kusnan membagikan buku tulis dan alat tulis secara gratis kepada anak-anak yang melintas sebagai simbol kepedulian terhadap akses pendidikan yang layak.
“Ini bentuk keprihatinan atas peristiwa kemanusiaan yang menimpa adik YBS di NTT. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” ujar Kusnan di sela-sela aksi.
Menurut Kusnan, kasus meninggalnya YBS menjadi pengingat serius bahwa persoalan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah besar, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan wilayah tertinggal.

Ia menegaskan, pendidikan seharusnya menjadi hak dasar yang dapat diakses seluruh anak bangsa tanpa terkendala faktor ekonomi. “Jangan sampai ada lagi anak yang kehilangan harapan hanya karena tidak mampu membeli alat tulis atau perlengkapan sekolah,” tegasnya.
Aksi berbagi alat tulis tersebut merupakan hasil donasi spontan dari warga Surabaya yang peduli terhadap dunia pendidikan. Kusnan berharap gerakan solidaritas semacam ini bisa terus tumbuh dan menjadi pemantik kepedulian yang lebih luas di masyarakat.
Selain itu, ia juga mendorong para pemangku kebijakan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan dasar siswa di daerah-daerah.
Kasus meninggalnya YBS sendiri hingga kini masih menjadi sorotan publik dan memicu diskusi nasional tentang pemerataan akses pendidikan, keadilan sosial, serta peran negara dalam memastikan tidak ada anak yang tertinggal akibat kemiskinan.
(Munawar)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini