Menu

Polri Klaim Swasembada Jagung, Panen Raya di Situbondo Jadi Etalase Nasional

Januari 9, 2026

Publikasiterkini.com° SITUBONDO – Panen Raya Jagung Serentak Kuartal IV 2025 yang digelar Polres Situbondo bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Pondok Pesantren Nurul Wafa Besuki, Kamis (8/1/2026), bukan sekadar agenda seremonial.

Kegiatan ini menjadi etalase klaim besar Polri bahwa Indonesia kini telah mencapai swasembada jagung dan siap menghentikan impor mulai 2026.

Panen berlangsung di Desa Jetis, Kecamatan Besuki, dan lahan Pondok Pesantren Nurul Wafa, dengan total area panen di Situbondo seluas satu hektare yang dikelola kelompok tani setempat. Dari lokasi itu, kegiatan terhubung secara daring melalui zoom meeting nasional yang dipimpin langsung Kapolri.

Di tingkat nasional, Gugus Tugas Ketahanan Pangan Polri melaporkan panen jagung serentak melibatkan 527 kelompok tani dengan total luas tanam mencapai 661.717,35 hektare. Program ini diklaim mendorong peningkatan produksi jagung nasional sebesar 362 ribu ton dibandingkan tahun 2024.

Tak hanya itu, Polri juga menyebut Indonesia pada 2025 telah mencapai swasembada jagung dengan cadangan nasional mencapai 4,5 juta ton. Pemerintah menargetkan pada 2026 Indonesia tidak lagi mengimpor jagung, dengan penyerapan hasil panen oleh Bulog yang difasilitasi aparat kepolisian.

Baca Juga :  Hadirkan Rasa Aman, Personel Gabungan Polsek Semampir dan Satpol PP Gencarkan Patroli Preventif

Wakapolres Situbondo Kompol Indah Citra Fitriani menegaskan, keterlibatan Polres Situbondo dalam panen raya ini merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan dari tingkat lokal.

“Ini adalah wujud sinergi Polri, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan kelompok tani. Kami berharap kesejahteraan petani meningkat dan ketahanan pangan di Situbondo semakin kuat,” kata Indah, Jumat (9/1/2026).

Panen raya ini juga melibatkan unsur TNI, pemerintah kecamatan, kepala desa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Gapoktan, hingga perwakilan Bulog. Bagi Pondok Pesantren Nurul Wafa, kegiatan tersebut bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga pendidikan kemandirian.

Pengasuh Ponpes Nurul Wafa, KH Hafidz Sybawaeh, menyebut kolaborasi lintas sektor ini memberi nilai tambah bagi para santri.

“Kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan nasional, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar santri mandiri, produktif, dan peduli pada sektor pertanian,” ujarnya.

 

SOFI/SI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini

dark_mode