Publikasiterkini.com // Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan Indonesia mampu mencapai swasembada gula putih pada tahun 2026, sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengembalikan kejayaan industri gula seperti era 1930-an.
“Juga gula, yang dulu kita impor insyaallah tahun depan swasembada white sugar (gula putih),” ujar Amran usai menghadiri Rapat Finalisasi Program Hilirisasi Perkebunan dan Industri bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Jumat (8/11/2025).
Menurut Amran, target swasembada akan dicapai dalam kurun tiga hingga empat tahun ke depan melalui peningkatan produktivitas tebu dan modernisasi industri gula nasional.
“Program swasembada gula akan menjadi tonggak penting kebangkitan sektor perkebunan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi nasional di tengah tantangan global,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Amran, berupaya mengembalikan kejayaan gula Indonesia seperti tahun 1930, ketika Nusantara menjadi eksportir dan produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba.
“Targetnya tiga sampai empat tahun ke depan kita swasembada gula dan kembalikan kejayaan gula zaman Belanda tahun 1930,” tegasnya.
Sebagai bagian dari percepatan itu, pemerintah mengamankan komitmen investasi hilirisasi senilai Rp371 triliun di sektor perkebunan, peternakan, dan hortikultura—meliputi komoditas kakao, mente, kelapa, hingga tebu.
Kementan telah menyusun Roadmap Swasembada Gula Nasional, dengan target swasembada gula konsumsi pada 2028 dan swasembada total, termasuk kebutuhan industri dan bioetanol, pada 2030. Namun Amran optimistis target tersebut bisa dicapai lebih cepat berkat dukungan penuh dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Berdasarkan taksasi produksi, pada awal 2025 produksi gula nasional diperkirakan mencapai 2,901 juta ton dari lahan sekitar 538 ribu hektare, dengan realisasi aktual mencapai 2,75 juta ton—tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Untuk mengakselerasi target swasembada, pemerintah menjalankan strategi intensifikasi melalui bongkar ratoon seluas 275 ribu hektare hingga 2027, didukung penggunaan benih unggul, perbaikan irigasi, dan distribusi pupuk tepat sasaran.
Selain itu, akan dilakukan perluasan areal tebu seluas 500 ribu hektare—200 ribu hektare untuk lahan inti dan 300 ribu hektare untuk plasma—serta pembangunan dan reaktivasi 10 pabrik gula baru di Jawa dan luar Jawa.
Sebagai catatan sejarah, pada 1930-an, produksi gula Indonesia mencapai sekitar 3 juta ton dengan produktivitas 14 ton per hektare, menjadikan Pulau Jawa dijuluki “raja gula” dunia.
(Red/ss)


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini