Publikasiterkini.com // Banyuwangi – Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hiu tertinggi di dunia, dengan 114 spesies dari total 500 spesies hiu yang ada secara global. Namun di balik kekayaan itu, tersimpan ironi: Indonesia juga menyandang predikat sebagai negara penangkap hiu terbesar di dunia, dengan tangkapan mencapai rata-rata 110 ribu ton per tahun.
Kondisi darurat konservasi ini menggugah seorang pemuda asal Banyuwangi, Oka Bayu Pratama (24), untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi. Melalui organisasi kepemudaan Garda Lestari, Oka bersama timnya menciptakan SeeShark, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengidentifikasi spesies hiu secara cepat dan akurat hanya dari potongan tubuh atau kulitnya.
“Masalah utama konservasi hiu di lapangan adalah krisis identifikasi spesies. Petugas enumerator sering kali kesulitan mengenali spesies karena hiu sudah dalam kondisi terpotong-potong. Akibatnya data jadi bias dan kebijakan konservasi melemah,” jelas Oka Bayu Pratama, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Airlangga.
Krisis Identifikasi di Pelabuhan Perikanan
Oka menuturkan, kondisi di lapangan—khususnya di pelabuhan pendaratan ikan seperti Muncar (Banyuwangi), Lamongan, dan Lombok Timur—sangat memprihatinkan. Banyak hiu didaratkan hanya dalam bentuk potongan tubuh akibat praktik finning, yakni pemotongan sirip untuk menghemat ruang penyimpanan.
Dalam situasi seperti ini, petugas pengumpul data perikanan sering kali harus menebak spesies hiu secara visual tanpa alat bantu. Padahal, spesies hiu seperti Hiu Martil Kepala Bergerigi (Sphyrna lewini) kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN dan masuk dalam Appendix II CITES, yang berarti perdagangannya diatur ketat.
Perjuangan dari Budidaya Lele hingga Teknologi AI
Menariknya, pengembangan SeeShark tidak didukung oleh pendanaan besar. Oka membiayai seluruh riset dan pengembangan awal dari hasil usaha budidaya lele yang ia jalankan di desanya, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
“Untuk bisa turun ke pelabuhan, mengembangkan model AI, dan mengumpulkan data, kami butuh biaya operasional. Semua saya biayai dari hasil usaha lele,” ujarnya.
Dari perjuangan mandiri itu, lahirlah SeeShark, aplikasi yang dibangun dengan teknologi deep learning. Aplikasi ini dilatih menggunakan 9.600 foto dari 10 spesies hiu paling rentan, dan mampu mengenali spesies dengan akurasi 95,3 persen dalam hitungan detik.
Selain itu, SeeShark menampilkan informasi status konservasi IUCN dan perlindungan CITES, sehingga petugas di lapangan dapat segera mengetahui apakah spesies tersebut dilindungi atau tidak.
Dari Banyuwangi ke Panggung Nasional
SeeShark kini telah diimplementasikan di tiga pelabuhan perikanan utama—Banyuwangi, Lamongan, dan Lombok Timur—dan berhasil mengidentifikasi lebih dari 1.000 gambar hiu di lapangan. Inovasi ini juga telah mendapat validasi teknis dari BRIN, serta memperoleh dua hak cipta dan satu permohonan paten.
Ketua Garda Lestari, Andri Saputra, menilai SeeShark sebagai bukti bahwa teknologi dapat menjadi jembatan antara kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
“Kami percaya, teknologi seperti SeeShark harus menjadi alat pemberdayaan. Dengan data yang akurat, pengelolaan sumber daya laut bisa lebih adil dan berkelanjutan,” kata Andri.
Selain di sektor maritim, Garda Lestari juga mengembangkan proyek ekonomi hijau seperti Kampung Aren (Si Macan) di Banyuwangi, yang memanfaatkan nira aren untuk mendorong ekonomi masyarakat tanpa merusak lingkungan.
Masuk 10 Finalis Nasional SATU Indonesia Awards 2025
Atas inovasinya, Oka Bayu Pratama berhasil membawa SeeShark masuk dalam 10 Finalis Nasional 16th SATU Indonesia Awards 2025 untuk kategori Teknologi Tepat Guna/Pemanfaatan Teknologi, menyisihkan lebih dari 17.700 peserta dari seluruh Indonesia.
Penghargaan tahunan yang digelar PT Astra International Tbk ini menyoroti kiprah anak muda yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Masyarakat dapat memberikan dukungan kepada Oka dan SeeShark melalui voting daring di situs resmi astra.co.id hingga 4 November 2025.
Dari kolam lele di Banyuwangi, kini inovasi Oka Bayu Pratama menginspirasi Indonesia menjaga lautan.
Sebuah bukti bahwa konservasi dan kesejahteraan bisa tumbuh bersama—dengan kecerdasan, ketekunan, dan teknologi.
(Red) brlian


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini