Publikasiterkini.com° Lumajang (DOC) – Ribuan umat Hindu dari Bali, Jawa Timur, dan berbagai daerah di Indonesia memadati Pura Mandara Giri Semeru Agung (MGSA), Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jumat (10/7/2026), untuk mengikuti puncak penutupan rangkaian Piodalan Panca Wali Krama 2026 yang berlangsung khidmat dan penuh nuansa spiritual.
Prosesi penutupan diisi dengan Tawur Panca Kelud, persembahyangan bersama, hingga upacara Penyineban Piodalan yang menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian upacara suci yang telah berlangsung selama beberapa hari.
Sejak pagi, kawasan pura telah dipadati umat yang mengenakan busana adat. Lantunan doa, bunyi gamelan, serta aroma dupa menciptakan suasana sakral di kompleks pura yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat spiritual umat Hindu di Pulau Jawa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar, S.I.K., S.H., M.H., didampingi para Pejabat Utama (PJU) Polres Lumajang.
Hadir pula Mantan Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si., Komjen Pol (Purn) Putu Jayandanu, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Lumajang Indah Amperawati, Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma, Ketua DPRD Lumajang Oktafiani, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menegaskan bahwa pelaksanaan Piodalan bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persaudaraan antarumat Hindu sekaligus menjaga kerukunan dalam kehidupan berbangsa.
“Kami sangat berharap dengan kualitas kehidupan beragama yang semakin baik akan terwujud kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Kami selaku umat Hindu terus berusaha berbuat yang baik dengan semangat kebersamaan antara umat Hindu di Bali maupun Jawa Timur sehingga melahirkan nilai-nilai berbudi luhur dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh umat Hindu untuk terus menjaga ketulusan dalam menjalankan ajaran Dharma.
“Kegiatan ibadah di Pura Mandara Giri Semeru Agung Senduro kita laksanakan dengan penuh ketulusan sebagai insan Dharma sehingga umat Hindu Bali dan Jawa Timur akan semakin rukun, damai, dan sejahtera,” tambahnya.
Usai sambutan, prosesi dilanjutkan dengan penyucian lokasi dan sarana upakara di Utama Mandala dan Madya Mandala sebelum memasuki persembahyangan bersama dalam rangka Penyineban Piodalan.
Prosesi sakral tersebut dipimpin oleh Ida Pedande Baturiti dari Bali bersama para Romo Dukun dari Jawa, yakni Romo Dukun Karioleh, Romo Dukun Gatot Arjo Tai, Romo Dukun Atim, dan Romo Dukun Sukadi.
Penyineban Piodalan merupakan persembahyangan penutup sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala berkah yang diberikan kepada umat. Rangkaian prosesi diawali dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan pelepasan Bathara, kemudian diakhiri dengan Matur Piuning sebagai ungkapan pamit dan rasa syukur.
Bagi umat Hindu, Pura Mandara Giri Semeru Agung memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi.
Pura ini diyakini sebagai salah satu pura tertua yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan spiritual leluhur umat Hindu sebelum berdirinya Pura Agung Besakih di Bali. Keyakinan tersebut menjadikan MGSA sebagai salah satu tujuan utama persembahyangan umat Hindu dari berbagai daerah.
Sementara itu, usai menghadiri rangkaian kegiatan, Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar mengatakan pihaknya memberikan perhatian penuh terhadap pengamanan kegiatan keagamaan berskala besar tersebut agar seluruh rangkaian ibadah dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar.
“Kami bersyukur seluruh rangkaian Piodalan Panca Wali Krama di Pura Mandara Giri Semeru Agung berjalan dengan aman, tertib, dan khidmat. Polres Lumajang bersama TNI dan seluruh unsur pengamanan hadir untuk memberikan rasa aman kepada seluruh umat yang melaksanakan persembahyangan,” kata Alex.
Menurutnya, pengamanan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan personel Polres Lumajang, seluruh polsek jajaran, serta Koramil di wilayah Senduro. Personel ditempatkan di sejumlah titik strategis, mulai dari akses masuk kawasan pura, lokasi parkir, jalur lalu lintas, hingga area pelaksanaan ibadah.
“Kami ingin memastikan masyarakat dapat beribadah dengan tenang tanpa rasa khawatir. Kehadiran aparat bukan hanya menjaga situasi kamtibmas dan kamseltibcarlantas tetap kondusif, tetapi juga sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Alhamdulillah seluruh kegiatan berlangsung aman, lancar, dan mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Hingga seluruh rangkaian Penyineban Piodalan berakhir, situasi di kawasan Pura Mandara Giri Semeru Agung tetap kondusif. Ribuan umat meninggalkan lokasi secara tertib dengan pengaturan arus lalu lintas oleh petugas gabungan, menandai berakhirnya Piodalan Panca Wali Krama 2026 dalam suasana aman, damai, dan penuh kekhidmatan.
SOFI H


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini