Publikasiterkini.com // Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan strategi branding guna meningkatkan daya saing industri batik nasional di tengah persaingan global. Batik, yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda sejak 2009, dinilai memiliki potensi besar sebagai produk industri kreatif bernilai tambah tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pentingnya penguatan branding agar batik Indonesia semakin dikenal, diminati, dan memiliki daya saing kuat di pasar domestik maupun internasional.
“Batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga industri kreatif yang strategis. Karena itu, branding batik menjadi sangat penting,” kata Agus di Jakarta, Jumat (3/10).
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Andi Rizaldi, menambahkan bahwa batik bukan sekadar produk tekstil, melainkan representasi seni, filosofi, dan peradaban yang melekat dalam identitas bangsa.
“Setiap helai kain batik adalah narasi visual yang mengisahkan sejarah, nilai-nilai luhur, dan kearifan lokal,” ujarnya.
Andi menilai, industri batik menghadapi tantangan berat seperti persaingan dengan produk tekstil negara lain serta perubahan tren fashion global yang dinamis. Karena itu, strategi branding visioner dianggap mutlak diperlukan.
Kemenperin mencatat ekspor batik pada triwulan I 2025 mencapai USD 7,63 juta. Angka ini berasal dari 214 sentra batik di 11 provinsi dari total 47 ribu unit usaha batik di Indonesia.
Sebagai langkah konkret, BSKJI Kemenperin melalui Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) kembali menggelar Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik (SNIKB) VII 2025 secara daring.
Dengan tema “Strategi Branding Batik: Dari Warisan Budaya ke Komunitas Global”, SNIKB VII menghadirkan 51 pemakalah dari kalangan akademisi, peneliti, dan pelaku industri. Forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem batik dan kerajinan nasional.
Kepala BBSPJIKB, Jonni Afrizon, berharap SNIKB mampu melahirkan gagasan inovatif yang relevan dengan tren global. “Melalui forum ini, kolaborasi antara industri, akademisi, peneliti, pemerintah, dan masyarakat semakin menguat untuk menjadikan batik dan kerajinan sebagai identitas nasional sekaligus produk unggulan yang mendunia,” pungkasnya.
Redaksi


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini